Perhatian! Burnout Bisa Ganjal Produktivitas Kerja

Burnout bisa menurunkan kinerja karyawan dan merugikan perusahaan

Rabu, 31 Agustus 2022

KBR, Jakarta - Fenomena burnout jadi perhatian saat pandemi karena dampaknya pada produktivitas kerja. Pola kerja yang berubah-ubah menyesuaikan pembatasan sosial, rentan mengganggu kesehatan mental karyawan. Stres berat yang menghinggapi pekerja bisa berujung pada burnout, jika gagal dikelola.

Istilah burnout sejatinya bukanlah istilah baru dan tidak identik dengan era pandemi. Gangguan kesehatan mental ini bisa mengganggu kinerja, yang pada akhirnya merugikan perusahaan/lembaga.

Menurut dosen Manajemen Universitas Hasanuddin, Insany Fitri Nurqamar, ada tiga tipe burnout. Yang pertama adalah wear out, yang disebabkan kurangnya penghargaan dari perusahaan/lembaga, padahal karyawan sudah bekerja keras.

“Itu bisa membuat mereka malas bekerja. Pada akhirnya mereka menganggap, ngapain saya kerja capek-capek tapi tidak dihargai,” kata Sany yang menulis buku “Manajemen Burnout, Konsep dan Implementasi”.

Yang kedua, burnout klasik. Ini dipicu karyawan yang bekerja terlalu keras.

“Mereka mengorbankan kehidupan dunia mereka, hanya untuk bekerja. Ini yang biasa banyak terjadi kan, yang kerja-kerja terus ya, lama-lama tipes,” tutur Sany.

Tipe burnout ketiga yakni under-challenged. Karyawan menurun motivasi dan produktivitas kerjanya karena pekerjaan terlalu mudah.

“Kurang menantang, yang biasa dibilanglah kehidupan mereka terlalu mediocre,” imbuhnya.

Sany berpandangan burnout menjadi tanggung jawab individu pekerja maupun perusahaan/lembaga tempat bekerja. Institusi tidak boleh tidak boleh lepas tangan karena hal ini terkait erat dengan produktivitas kerja. 

Baca juga: Kisah Klasik Kisruh Upah Minimum

Dosen Manajemen Universitas Hasanuddin, Insany Fitri Nurqamar menyebut korporasi/lembaga harus mencarikan solusi jika pekerja burnout. (Foto: dok pribadi).

Banyak metode atau pendekatan yang bisa diterapkan untuk mengatasi burnout atau masalah kesehatan mental lain yang menggerogoti produktivitas kerja.

Salah satunya pendekatan neurosains yang dikembangkan Daniel Amen, psikiater asal Amerika Serikat yang menangani Justin Bieber dan Ariana Grande. Di Indonesia, ada Coach Pris yang memegang lisensinya.

Menurut Coach Pris, kesehatan otak itu menentukan kesehatan mental. Jadi, jika terjadi burnout, individu atau karyawan harus dicek kondisi otaknya lebih dulu untuk menentukan program yang tepat.

“Berdasarkan neurosains, to fix your life, you have to fix your brain,” kata Coach Pris.

Baca juga: Kunci Startup Bangun Bisnis Berkelanjutan

Coach Pris menyebut burnout maupun gangguan kesehatan mental lain bisa dipengaruhi pula oleh faktor genetis. (Foto: dok pribadi)

Program pemulihan burnout maupun gangguan kesehatan mental lain, dirancang untuk kurun enam bulan. Selama satu semester itu, si klien dilatih untuk mengubah gaya hidup atau lifestyle-nya.

“Cara dia pilih makanan, memutuskan sesuatu, itu semua kan lifestyle. Neurosains kuncinya di nutrition. Kebayang ga? mobil Fortuner dikasih solar, matching ga?” tutur CEO PT Stress Management Indonesia ini.

Coach Pris mengklaim pendekatan neurosains bisa diterapkan untuk memitigasi burnout sampai mengoptimalkan kinerja SDM. Harapannya, kesehatan mental karyawan terjaga dan produktivitas kerja perusahaan/lembaga terdongkrak.

“Pelatihannya bertujuan meningkatkan level kebahagiaan karyawan. Karyawan yang tidak bahagia, dengan yang bahagia, mengambil keputusannya dalam pekerjaan pasti berbeda, hasilnya beda,” kata dia.

Simak penjelasan lengkap soal fenomena burnout pada karyawan dan dampaknya pada perusahaan di Uang Bicara episode Perhatian! Burnout Bisa Ganjal Produktivitas Kerja di KBR Prime, Spotify, Google Podcast, dan platform mendengarkan podcast lainnya.