Bagikan:

Keuangan Global Tak Pasti, BI Pastikan Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

"Perkembangan nilai tukar rupiah tersebut sejalan dengan kembali masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik,"

NASIONAL

Selasa, 23 Agus 2022 21:49 WIB

Keuangan Global Tak Pasti, BI Pastikan Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

ilustrasi

KBR, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memastikan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah pada Senin, 22 Agustus 2022 tercatat menguat secara rerata sebesar 0,94 persen. 

Sebelumnya, rupiah sempat terdepresiasi 0,37 persen dibandingkan akhir Juli 2022.

"Perkembangan nilai tukar rupiah tersebut sejalan dengan kembali masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, terjaganya pasokan valas domestik, serta persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik, di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global," katanya saat konferensi pers daring di Jakarta, Selasa (23/8/2022).

Baca: Jokowi Minta Pemda Petakan Masalah Inflasi

Perry menyebut, dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah sampai dengan 22 Agustus 2022 terdepresiasi 4,27 persen, dibandingkan dengan level akhir 2021.

"Angka ini relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 6,92 persen, Malaysia 7,13 persen dan Thailand yang mengalami depresiasi 7,38 persen," jelasnya.

Ke depan, lanjutnya, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makro ekonomi.

BI Naikkan Suku Bunga Acuan

Sebelumnya, Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan, BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis point menjadi 3,75 persen. Selain suku bunga acuan, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis point menjadi 3 persen, dan suku bunga Lending Facility 25 basis poin menjadi 4,5 persen.

"Keputusan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah preventif dan forward looking untuk memitigasi risiko peningkatan inflasi inti dan ekspektasi inflasi akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi dan inflasi volatile food, serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah pertumbuhan ekonomi domestik yang semakin kuat," jelas Perry Warjiyo.

Bank Indonesia, lanjutnya, terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan memperkuat pemulihan dengan sejumlah langkah. Di antaranya memperkuat operasi moneter melalui kenaikan struktur suku bunga di pasar uang sesuai dengan kenaikan suku bunga acuan, memitigasi risiko kenaikan inflasi inti dan ekspektasi inflasi, memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan melakukan pembelian/penjualan SBN di pasar sekunder.

Kemudian, BI juga memperkuat sinergi antara pusat dan daerah untuk menjaga stabilitas harga dan meningkatkan ketahanan pangan

"Melalui Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi (TPIP dan TPID), serta akselerasi pelaksanaan gerakan nasional pengendalian inflasi pangan (GNPIP)," ungkapnya.

Ingatkan Meningkatnya Tekanan Inflasi

Selain itu, Bank Indonesia juga mengingatkan ancaman meningkatnya tekanan inflasi, imbas tingginya harga komoditas pangan dan energi global.

Per Juli lalu, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli 2022 tercatat sebesar 4,94 persen (year on year), lebih tinggi dibandingkan inflasi Juni yang hanya sebesar 4,35 persen (year on year).

"Inflasi inti dan ekspektasi inflasi juga diprakirakan berisiko meningkat akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi dan inflasi volatile food, serta semakin menguatnya tekanan inflasi dari sisi permintaan. Berbagai perkembangan tersebut diprakirakan dapat mendorong inflasi pada tahun 2022 dan 2023 berisiko melebihi batas atas sasaran 3 persen plus minus 1 persen," ungkapnya.

Baca juga: Ini Tiga Kebijakan Pengendalian Inflasi Versi Bank Indonesia

Oleh sebab itu Perry menekankan perlunya sinergi kebijakan yang lebih kuat antara Pemerintah Pusat dan Daerah dengan Bank Indonesia untuk langkah-langkah pengendaliannya.

"Didukung oleh konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga ekspektasi inflasi," pungkas dia.

Editor: Kurniati Syahdan

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Antisipasi Bencana Alam di Akhir Tahun

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending