Bagikan:

Kemenkes Gencarkan Skrining Hipotiroid Kongenital Pada Bayi

Cakupan Skrining Hipotiroid Kongenital pada bayi di Indonesia masih sangat rendah

NASIONAL

Rabu, 31 Agus 2022 15:52 WIB

Author

Maria Katrina

Kemenkes Gencarkan Skrining Hipotiroid Kongenital Pada Bayi

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono menggendong bayi yang telah menjalani uji saring hipotiroid kongenital di Puskesmas Batujajar. (31/08/22). Foto:Antara

KBR, Jakarta- Kementerian Kesehatan meluncurkan program skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) pada bayi baru lahir. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut, skrining atau penapisan ini penting dilakukan agar bayi dengan hormon tiroid rendah bisa segera terdeteksi dan mendapat penanganan medis.

“Hal ini harus dicegah sedini mungkin, caranya dengan pemeriksaan hormon tiroid pada saat mereka 24-72 jam sesudah lahir. Kenapa begitu, karena dengan melakukan pemeriksaan yang sedini mungkin maka kita akan bisa mengidentifikasi anak-anak yang memiliki kelainan hormon tiroid tersebut,” kata Dante Saksono dalam kegiatan Peluncuran Screening Hipotiroid Kongenital Bayi Baru Lahir di Bandung Barat, Rabu (31/08/22).

Dante mengatakan, proses SHK ini tidak memerlukan waktu panjang. Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel darah dari tumit bayi, yang kemudian diidentifikasi terkait jumlah hormon tiroid yang dimiliki. Jika rendah, maka anak akan langsung mendapat pengobatan.

Baca juga:

Wapres Instruksikan Posyandu Ambil Peran Turunkan Stunting

Cegah Stunting, BKKBN Dorong Audit Hingga Desa

Berdasarkan data kementerian kesehatan pada tahun 2020, secara global prevalensi anak lahir dengan kelainan Hipotiroid Kongenital (HK) adalah 1 banding 3000. Sementara itu, menurut Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu Anak Kemenkes, Erna Mulati, di Indonesia sendiri diperkirakan terdapat 1500 anak dengan HK dari 4,4 juta kelahiran.

Erna mengatakan, bayi yang lahir dengan HK memiliki ciri fisik bertubuh pendek, lunglai, lidah besar, mudah tersedak, bersuara serak dan memiliki ubun-ubun lebar. Selain itu tingkat kecerdasan pada anak lebih rendah dibanding anak-anak tanpa HK.

"Bayi dengan Hipotiroid Kongenital, akan bermasalah pada tumbuh kembang dan kecerdasannya. Untuk itu kementerian kesehatan saat ini mulai gencar melakukan skrining untuk mencapai target," ujar Erna dalam kegiatan yang sama.

Erna menjabarkan, cakupan SHK di Indonesia hanya 2 persen pada akumulasi kelahiran. Jumlah ini sangat rendah dibandingkan cakupan SHK di negara asia lain seperti Thailand yang mencapai 94 persen, Filipina 65 persen, Malaysia 95 persen dan Singapura 99 persen.

Untuk mendorong program SHK berjalan, kementerian kesehatan akan menambah jumlah rumah sakit dengan laboratorium SHK. Di mana, saat ini hanya ada empat rumah sakit yang dapat melakukan skrining. Yakni RSUP Cipto Mangunkusumo, Hasan Sadikin, Sardjito dan Soetomo.

"Akan ada lagi rumah sakit yang kita kembangkan. Ini dilakukan karena target bapak menteri kesehatan pada 2022 cakupan SHK mencapai 400 ribu bayi, 2023 2,2 juta bayi dan 2024 3,9 juta bayi," ujarnya.

Editor:Dwi Reinjani

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Upaya Polri Meningkatkan Kembali Kepercayaan Publik

Most Popular / Trending