Bagikan:

Gubernur BI: Waspadai Lonjakan Inflasi Pangan

"Ingat inflasi pangan. Inflasi pangan itu adalah masalah perut, masalah rakyat. Dan itu langsung ke sejahtera. Ini bukan masalah ekonomi saja, masalah sosial"

NASIONAL

Rabu, 10 Agus 2022 18:05 WIB

Gubernur BI: Waspadai Lonjakan Inflasi Pangan

ilustrasi komoditas pangan yang dapat memicu inflasi. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mewanti-wanti pemerintah untuk mewaspadai tingginya tingkat inflasi pangan di Indonesia.

Saat ini, katanya, inflasi nasional mencapai 4,89 persen, dan jika dipecah, porsi inflasi pangannya mencapai 10,47 persen. Atau tertinggi dibandingkan porsi komponen lain di inflasi.

"Yang paling tinggi inflasi ini kalau kita pecah adalah inflasi pangan 10,47 persen. Mestinya inflasi pangan itu tidak boleh lebih dari 5 persen atau paling tinggi 6 persen. Ingat inflasi pangan. Inflasi pangan itu adalah masalah perut, masalah rakyat. Dan itu langsung ke sejahtera. Ini bukan masalah ekonomi saja, masalah sosial dan masalah juga bagaimana nanti Oktober dan seterusnya itu jangan sampai ada masalah politik," kata Perry pada acara kick-off gerakan nasional pengendalian inflasi pangan (10/8/22).

Perry juga mengingatkan jangan sampai inflasi pangan ini berdampak pada penurunan daya beli masyarakat.

"Untuk itu pentingnya pemerintah menurunkan inflasi pangan hingga di kisaran 5 hingga 6 persen melalui gerakan nasional pengendalian inflasi pangan," katanya.

Bekas Deputi Gubernur Bank Indonesia ini menekankan perlunya pemerintah melakukan operasi pasar untuk menekan kenaikan harga sejumlah komoditas yang melonjak seperti cabai, bawang, telur, hingga daging.

Berita terkait:

"Insyaallah di pusat sedang dikoordinasikan supaya bupati, wali kota, provinsi bisa menggunakan anggaran daerahnya melakukan operasi pasar. Karena ada beberapa masalah kepastian hukum dan ada beberapa bupati wali kota yang takut menggunakan anggaran untuk operasi pasar," ungkapnya.

Perry juga mendorong agar pemerintah daerah saling bekerja sama.

"Contohnya jika ada daerah yang kelebihan pasokan komoditas pangan, bisa menyalurkannya ke daerah yang kekurangan," pungkasnya.

Editor: Kurniati Syahdan

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Laporan Temuan Ombudsman soal Penanganan Bencana

Most Popular / Trending