covid-19

Saran Epidemiolog Hadapi Lonjakan COVID-19 di Luar Jawa-Bali

Tingkat penularan dan kematian akibat COVID-19 di luar Jawa-Bali cukup tinggi. Pemerintah memperpanjang PPKM level 4 di 45 daerah di luar Jawa-Bali selama dua minggu.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 10 Agus 2021 10:26 WIB

Author

Heru Haetami

Warga menerobos penyekatan jalan di Bandar Lampung, Selasa (10/8/2021).  Bandar Lampung masuk daerah

Warga menerobos penyekatan jalan di Bandar Lampung, Selasa (10/8/2021). Bandar Lampung masuk daerah PPKM level 4. (Foto: ANTARA/Ardiansyah)

KBR, Jakarta - Sejumlah daerah di luar Jawa-Bali mengalami lonjakan kasus COVID-19.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyarankan daerah-daerah itu untuk meningkatkan upaya pemeriksaan dan pelacakan.

Dicky mengatakan anjuran Presiden Jokowi untuk penguatan testing dan tracing tidak bisa hanya dalam bentuk imbauan, melainkan harus berbentuk program yang mengikat dan wajib serta dipantau ketat.

“Kalau tidak, akan dua hal yang akan terjadi. Pertama adalah jelas kesakitan akan lebih banyak, walaupun tidak terdeteksi. Kedua, kematiannya meningkat. Dan ini yang terjadi,” kata Dicky kepada KBR, Senin (9/8/2021).

Dicky menambahkan, situasi di beberapa daerah di luar Jawa-bali berpotensi mengalami krisis secara bergantian lantaran sebagai negara kepulauan, indonesia memiliki pola pandemi yang khas.

Untuk itu, Dicky menyarankan agar strategi 3T, 5M dan vaksinasi harus dilakukan di semua daerah secara kuat, konsisten dan berkomitmen tinggi.

Jika tidak, Dicky memprediksi angka kematian dan pasien yang dirawat akibat covid-19 akan lebih besar.

“Sangat besar angka kematian, kesakitan di luar Jawa. Itu kesakitannya dalam arti yang rawatan rumah sakit jauh lebih besar. Tentu 3T-nya jauh lebih lemah dari Jawa. Kemudian juga kapasitas SDM-nya, sistem rujukannya, kemudian juga sosiodemografinya, ekonominya dan juga ini masalah literasi juga menjadi isu,” pungkasnya

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Popsiklus, Pemain Lama Bisnis Daur Ulang yang Makin Relevan