covid-19

Kendalikan Angka Kematian Covid-19, Ini Saran Epidemiolog UGM

"Artinya kita perlu tahu di mana, kapan dan dalam situasi apa kematian itu terjadi, yang kita tahu yang diumumkan angka kematiannya besar, terus kemudian ada upaya di komunitas"

BERITA | NASIONAL

Selasa, 24 Agus 2021 15:08 WIB

Author

Dwi Reinjani

Kendalikan Angka Kematian Covid-19, Ini Saran Epidemiolog UGM

ilustrasi pemakaman pasien covid-19. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Riris Andono Ahmad mengatakan, audit dan evaluasi alasan kematian pasien menjadi upaya mengendalian tingginya angka kematian akibat covid-19.

Menurutnya, setelah diketahui penyebab kematian akibat covid-19 terbanyak, baru pemerintah melakukan intervensi, dengan upaya pencegahan.

"Kita perlu melakukan evaluasi ya, audit kematian. Artinya kita perlu tahu di mana, kapan dan dalam situasi apa kematian itu terjadi, yang kita tahu yang diumumkan angka kematiannya besar, terus kemudian ada upaya di komunitas tapi kita tidak tahu data yang sebetulnya. Begitu itu terus bikin selter pusat, jadi saya rasa kita perlu tahu dulu di mana, kapan dan pada situasi apa kematian itu terjadi sebelum kemudian kita memutuskan intervensi yang tepat," katanya, saat dihubungi KBR, Selasa (24/08/2021).

Riris Andono menyatakan, pemerintah bisa memastikan penyebab kematian dengan melihat daftar kematian di rumah sakit atau pemakaman. Biasanya, kata dia, data yang dituliskan untuk pemakaman pasien Covid-19 cukup lengkap.

"Setahu saya data pemakaman saat ini kan untuk Covid, kita ada meninggalnya kapan, di mana, jam berapa, di rumah sakit atau di rumah. Kalau bisa dapat data dari rumah sakit, saya rasa itu juga ada itu bisa kita tahu kematian di rumah sakit kapan terjadinya, pada situasi apa dan sebagainya. Jadi ada dua hal untuk kematian yang tidak di rumah sakit ya kita bisa pakai data pemakaman, kalau di rumah sakit ya kita lihat dari data catatan di rumah sakit. Itu yang kemudian akan membantu kita sebagian besar itu menentukan kematiannya," jelasnya.

Riris mencontohkan tingginya angka kematian mungkin saja tidak hanya terjadi saat isolasi mandiri, tetapi terjadi di rumah sakit saat pergantian jadwal tugas (shifting). Hal seperti ini, lanjutnya, harus diselesaikan dengan tepat.

"Kalau itu yang terjadi berarti ada upaya lebih saat shifting petugas agar tidak miss monitoring. Itu contoh-contoh saja kalau kita bisa melakukan audit secara lebih detail. Iya karena bisa jadi penyebab kematiannya dulu pas tinggi-tingginya dengan sekarang itu, sudah berubah penyebabnya. Dulu mungkin kematiannya karena antrean masuk ke rumah sakit banyak, mengular sekarang sudah bukan itu lagi. Tapi ada hal lain yang menyebabkan itu tetap kematian tinggi," pungkas Riris Andono.

Editor: Kurniati Syahdan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Mampukah Polisi Respons Cepat Kasus yang Libatkan Anggotanya?