covid-19

Isolasi Terpusat, Solusi Sementara Cegah Kematian Pasien COVID-19

Tingkat kematian dalam isolasi mandiri cukup tinggi kalau tidak ada pemantauan. Jadi adanya tempat isolasi terpusat adalah solusi sementara untuk mengurangi beban di rumah sakit

BERITA | NASIONAL

Selasa, 03 Agus 2021 14:51 WIB

Isolasi Terpusat, Solusi Sementara Cegah Kematian Pasien COVID-19

Peluncuran kapal Isolasi apung terpadu di Pelabuhan Sukarno Hatta, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (2/8/2021). (Foto: ANTARA/Abriawan Abhe)

KBR, Jakarta - Kasus kematian pasien Covid-19 saat isolasi mandiri di rumah cukup tinggi. Berdasarkan data Lapor Covid-19, ada lebih dari 2.800 kasus kematian pasien saat isolasi mandiri atau di luar rumah sakit, selama periode Juni hingga Juli.  

Keterbatasan ruang di rumah sakit maupun di tempat isolasi terpusat membuat banyak pasien Covid-19 melakukan isolasi mandiri di rumah. Namun banyak di antara mereka yang tak selamat dan akhirnya meninggal.

Salah satu yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri adalah Bupati Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku, Muhamad Yasin Payapo. Yasin meninggal akhir pekan lalu.

Sehari sebelum meninggal, Yasin sempat menjalani perawatan di RSUP dr Johanes Leimena Ambon. Ini disampaikan Direktur RSUP dr Johanes Leimena Ambon, Celestinus Munthe.

"Bapak Bupati meminta untuk pulang melaksanakan isolasi mandiri. Dokter yang pada saat itu sebagai penanggung jawab pasien, melihat kondisi pasien saat itu layak menjalani isolasi mandiri apalagi didampingi. Maka pasien atas permintaan sendiri, meminta untuk pulang untuk melaksanakan isolasi mandiri," ujar Celestinus dalam konferensi pers di RSUP dr Johanes Leimena Ambon, Minggu (1/8/2021).

Celestinus mengatakan, Yasin dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan tes usap dengan metode PCR. Namun, Yasin memilih pulang dan menjalani isolasi mandiri, karena merasa kondisinya baik.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nasional juga menyoroti kematian Covid-19 di Indonesia yang masih sangat tinggi. Ketua Bidang Relawan Satgas Covid-19 Nasional, Andre Rahadian mengakui angka kematian pasien Covid-19 di Indonesia juga banyak disumbang dari kasus kematian pasien isolasi mandiri yang tidak mendapatkan pemantauan medis.

“Kita lihat tingkat kematian dalam isolasi mandiri cukup tinggi kalau tidak ada pemantauan. Jadi adanya tempat isolasi terpusat adalah solusi sementara untuk mengurangi beban di rumah sakit, tapi tetap memberikan pelayanan kesehatan masyarakat,” kata Andre dalam webinar Iluni UI bertajuk “Strategi Penanganan Covid-19 Gelombang ke-2”, Sabtu (31/7/2021).

Andre mengatakan, Satgas Covid-19 berusaha menambah tempat isolasi terpusat di daerah demi meminimalkan kematian pasien isoman. Satgas juga sudah meminta bantuan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan dunia usaha agar secepatnya membangun tempat-tempat isolasi terpusat atau terpantau.

Koordinator Pelaksanaan PPKM wilayah Jawa-Bali, Luhut Binsar Pandjaitan meminta masyarakat yang terpapar Covid-19 melakukan isolasi terpusat, daripada isolasi mandiri. Ini penting untuk menekan tingkat kematian akibat Covid-19.

"Pemerintah mendorong isolasi terpusat dan isoter, kita bisa atasi tekanannya. Beberapa daerah yang kasusnya masih tinggi, kapasitas rumah sakitnya juga terus ditingkatkan. Pemerintah terus jaga adalah mobilisasi pasien Covid-19 yang tadinya isolasi mandiri, untuk isolasi terpusat agar mendapatkan fasilitas yang lebih baik untuk perawatan agar menghindarkan dari kematian akibat terlambat mendapat penanganan," ujar Luhut dalam konferensi daring, Senin (2/8/2021).

Luhut memastikan, tempat isolasi terpusat sudah dilengkapi tenaga medis seperti dokter, perawat, hingga layanan oksigen, obat-obatan, dan konsumsi pasien yang disediakan gratis. Luhut mengklaim total tempat isolasi terpusat di Jawa-Bali berkapasitas 49 ribu tempat tidur.

Epidemiolog dari Unviersitas Griffith Australia Dicky Budiman juga meyakini penyebab tingginya angka kematian akibat Covid-19, salah satunya akibat tidak pasien tidak terpantau selama menjalani isolasi di rumah. Dicky mengatakan isolasi terpusat atau terpantau dan peningkatan tes, lacak, dan perawatan atau testing, tracing, dan treatment (3T) akan menjadi kunci utama untuk menekan angka kematian.

"Dari awal kita sampaikan bahwa 3T dan isolasi karantina atau terpusat, apalagi sekarang (ditambah) vaksinasi. Kita akan bisa mencegah banyak kematian dan banyak kasus orang masuk ICU kuncinya ada di keduanya," ujar Dicky kepada KBR, Selasa (3/8/2021).

Epidemiolog Dicky Budiman juga meminta pemerintah menyiapkan skenario untuk meminimalkan risiko kematian dan penularan virus yang lebih banyak, yaitu dengan memperbanyak tempat isolasi terpusat. Ia menyarankan, agar pasien positif bisa diisolasi secara sentral, sehingga potensi bahaya kematian dapat dicegah.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Layanan Identitas Kependudukan bagi Kelompok Transpuan

Kabar Baru Jam 8

Seruan untuk Lindungi Nakes di Daerah Rawan

Kabar Baru Jam 10