Daerah Kewalahan Kejar Target 3T

"Kasus di desa dan di pedalaman ini peluang terjadinya underreported. Artinya itu kasus yang tidak terdeteksi, baik jumlah kasusnya maupun kematiannya."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 05 Agus 2021 11:27 WIB

Daerah Kewalahan Kejar Target 3T

Petugas kesehatan menyimpan sampel tes usap antigen dan PCR di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (28/7/2021). (Foto: ANTARA/Adwit Pramono)

KBR, Jakarta - Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) menyebut kemampuan tracing virus korona di daerah masih rendah.

Ketua APEKSI, Bima Arya menjelaskan, banyak daerah yang kewalahan mengejar Rasio Lacak Isolasi (RLI) yang ideal.

Bahkan kata Bima, masih banyak kepala daerah terutama di daerah 3T yang tak mampu mengejar rasio RLI 1:8, yang artinya dari satu pasien Covid-19 akan ditelusuri 8 orang yang kontak dengannya.

Padahal awal tahun lalu Presiden Joko Widodo menargetkan pelacakan dapat mencapai 1:30 sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Hari ini satu berbanding 6 dan 8 saja susah. Ini ada persoalan apa? Saya kira ada persoalan kapasitas. Karena melakukan tracing ini memerlukan ilmunya juga. Kita harus bisa mendalami keterangan dari kontak eratnya. Dari suspek, dari orang yang terkonfirmasi positif. Tidak cukup menanyakan pertanyaan generik saja," ungkap Bima melalui daring, Selasa, (3/8/2021).

Bima Arya menambahkan, kesulitan pemerintah daerah juga terkait fasilitas kesehatan yang minim untuk mendukung keberhasilan 3T.

Selain itu, juga kendala jangkauan melingkupi masyarakat serta kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah-daerah tersebut. Dari sisi masyarakat, kata Bima, kesadaran warga masih relatif rendah untuk mendukung program 3T yang benar.

Di Jawa Timur, salah satu kendala 3T adalah karena banyak warga tidak percaya dengan adanya COVID-19.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak mengatakan banyak masyarakat menolak untuk dites Covid-19, sebab berprasangka akan sengaja hasilnya menjadi positif Covid-19.

"Makanya dari survei, orang yang tidak percaya Covid itu juga tidak mau melapor. Sehingga muncul istilah di-covid-kan," kata Emil.

Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto mengatakan upaya 3T memang masih diprioritaskan bagi kota dan kabupaten yang kasusnya meningkat. Diantaranya Kota Medan, Makassar, Banjarmasin, Pekanbaru, Banjarbaru, Tarakan, dan Jayapura. Serta Kabupaten Sikka, Berau, dan Belitung.

"Seperti arahan Bapak Presiden bahwa penerapan 3M, 3T, dan vaksinasi ini adalah hal yang terus dilakukan dan diprioritaskan dan di daerah-daerah tersebut," kata Airlangga melalui pesan tertulis, Selasa (3/8/2021).

Ketimpangan testing tracing

Koalisi warga pemantau wabah, LaporCovid-19 mencatat terjadi peningkatan kasus kematian diduga akibat Covid-19 di desa-desa dan daerah pedalaman.

Co-Inisiator LaporCovid-19 Ahmad Arif mengatakan kasus Covid-19 baik itu penambahan kasus positif maupun kematian di desa tidak terlaporkan atau underreported, lantaran terjadi ketimpangan testing dan tracing.

"Kasus di desa dan di pedalaman ini peluang untuk terjadinya underreported. Artinya kasus yang tidak terdeteksi, baik jumlah kasusnya maupun kematiannya. Itu jauh lebih tinggi dibandingkan kalau itu terjadi di Jabodetabek. Karena persoalannya adalah kapasitas tes yang timpang banget," kata Arif kepada KBR, Rabu (4/8/2021)

Ahmad Arif mengatakan, dari pemantauan LaporCovid-19 peningkatan kasus kematian terjadi tak hanya di wilayah Jawa. Kasus juga meningkat di luar Jawa seperti Kalimantan dan Papua.

"Kekhawatiran kami itu terjadinya underreported kasus, artinya penularan tinggi di desa-desa tetapi kasus yang ditemukan kecil. Demikian halnya jumlah korban jiwa yang dilaporkan dengan positif covid itu relatif kecil karena kasusnya kecil kan, tetapi angka kematian di desa itu tinggi," kata Arif.

Berdasarkan hasil survei LaporCovid-19, Arif mengungkapkan kasus kematian akibat Covid-19 di desa-desa mengalami kenaikan yang merata di setiap daerah. Ia mencontohkan di Jawa Barat, Yogyakarta dan Jawa Timur terjadi lonjakan kematian sampai 10 kali lipat.

"Di Jawa Barat kami cek di Majalengka, di Yogyakarta di Banguntapan, di Jawa Timur di daerah Sidoarjo rata-rata 10 kali lipat kematian di bulan Juli dibandingkan sebelumnya," kata Arif

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Siapkan Pembelajaran Tatap Muka Digelar?

Kabar Baru Jam 8

Wisata Sehat di Tengah Pandemi

Desa Wisata Tak Kehilangan Pesona