Uji Klinis Vaksin COVID-19 Fase 3, Ini yang Dirasakan Relawan

“Nanti pas dilakukan kembali vaksinasi yang kedua, catatan itu diberikan kepada dokter tersebut."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 13 Agus 2020 10:35 WIB

Author

Arie Nugraha

Uji Klinis Vaksin COVID-19 Fase 3, Ini yang Dirasakan Relawan

Relawan bersiap ikut uji klinis Vaksin COVID-19 di Puskesmas Dago, Bandung, Selasa (11/8). (Antara/Novrian)

KBR, Bandung-   Sejumlah  relawan mengikuti pemberian uji coba klinis vaksin COVID-19 di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Padjadjaran (RSP Unpad) Jalan Profesor Eyckman, Bandung. Di antara relawan itu, terdapat petugas kesehatan yang ikut serta.

Menurut salah satu petugas kesehatan yang menjadi relawan uji coba klinis vaksin COVID-19, Nina Fatimah, usai mendaftar pada 6 Agustus 2020 lalu dilakukan tes kesehatan menyeluruh pada 10 Agustus 2020. Nina mengatakan motivasi dirinya menjadi relawan, tujuannya untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya terhadap paparan COVID-19.

“Pertama karena COVID ini enggak beres-beres. Terus kepikiran bagaimana kalau ikutan vaksin, otomatis kan kita punya daya tahan tubuh tuh sudah ke-handle dengan vaksin. Jadi kepikirannya lebih baik divaksin, kan kita enggak tahu kapan adanya lagi,” ujar Nina saat dihubungi via telepon, Bandung, Selasa (11/08).

Nina menjelaskan usai menerima vaksinasi itu, tidak mengalami gangguan kesehatan yang berarti. Meski sebelumnya ucap Nina, dokter yang memberikan vaksin menjelaskan dampak vaksinasi berupa peningkatan suhu tubuh.

Baca: Uji Klinis Vaksin COVID-19 Fase 3, Ini yang Dipantau Tim Riset  

Nina menyebutkan nantinya selama 14 hari, segala keluhan dan dampak vaksin COVID-19 dicatat dalam buku harian yang diberikan dokter. Hal itu dilakukan untuk mengetahui riwayat kondisi kesehatan seluruh relawan.

“Nanti pas dilakukan kembali vaksinasi yang kedua, catatan itu diberikan kepada dokter tersebut. Tapi kalau ada apa-apa sesudah di vaksin, bisa dilaporkan pula melalui WA grup relawan,” jelas Nina.

Keikutsertaan Nina menjadi relawan uji coba klinis vaksin kategori penyakit menular khusus bukan yang pertama kali. Pada  2008, Nina pernah menjadi relawan vaksinasi flu babi (virus H1N1).

Nina mengaku tidak ada yang berbeda soal perlakuan dan dampak antara vaksinasi flu babi dan COVID-19. Semuanya hampir sama.

“Tapi sesudah mengikuti vaksinasi flu babi, perbedaannya saya sampai sekarang belum pernah sakit apalagi flu. Padahalnya saya sebelumnya tukang sakit. Sekarang jarang sekali sakit,” ucap Nina.

Nina menuturkan selain diberikan vaksin COVID-19, relawan juga diberikan fasilitas makan dan minum bersama lima orang relawan lainnya. Selain itu uang pengganti waktu dan transportasi senilai Rp 200 ribu diterimanya. 

Tidak ada pantangan apapun dalam proses pemberian vaksin. Waktu pemberian vaksin terhadap satu kelompok yang terdiri dari enam relawan, dibutuhkan enam jam. 

Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Strategi Pembiayaan Lingkungan Hidup

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17