Pertumbuhan Ekonomi Minus, Apindo Minta Pemerintah Benahi Sektor Kesehatan

"Semua itu kuncinya adalah apabila sektor kesehatan itu bekerja dengan cepat. Masalahnya sektor kesehatan ini, realisasi stimulusnya masih rendah sekali."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 06 Agus 2020 09:12 WIB

Author

Wahyu Setiawan, Astri Septiani

Pertumbuhan Ekonomi Minus, Apindo Minta Pemerintah Benahi Sektor Kesehatan

Tingkat pertumbuhan triwulan kedua 2020. (BPS)

KBR, Jakarta-  

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pemerintah membenahi cara penanganan wabah Covid-19 agar pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua ini minus 5,32% atau terburuk sejak 1999.

Ketua Kebijakan Publik Apindo Sutrisno Iwantono mengatakan sudah menduga pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menurun drastis. Ia mengatakan, lemahnya denyut perekonomian Indonesia ini disebabkan kegiatan usaha yang menurun.

Kata dia, itu semua merupakan dampak dari kinerja sektor kesehatan yang kurang apik. Untuk itu ia meminta pemerintah membenahi sektor kesehatan agar masyarakat kembali produktif.

"Memperbaiki daya beli dan mendorong setiap orang untuk bekerja lagi, untuk produktif lagi. Dan semua itu kuncinya adalah apabila sektor kesehatan itu bekerja dengan cepat. Masalahnya sektor kesehatan ini, realisasi stimulusnya masih rendah sekali. Itu termasuk akar masalah. Sepanjang orang masih ketakutan sama virus, sepanjang itu pula orang nggak berani keluar, sepanjang itu pula ekonomi nggak jalan," kata Sutrisno saat dihubungi KBR, Rabu (8/5/2020).

Ketua Kebijakan Publik Apindo Sutrisno Iwantono menambahkan, perekonomian Indonesia di sisa tahun ini bisa membaik jika belanja pemerintah, termasuk stimulus, ditingkatkan dan dipercepat. Itu bisa membuat daya konsumsi dalam negeri meningkat.

Pernyataan itu diperkuat oleh Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani. Menurut Hariyadi, sumbangsih konsumsi dalam negeri Indonesia terhadap perekonomian nasional sangat tinggi. Hal itu berbeda dengan beberapa negara lain yang telah masuk jurang resesi, seperti Singapura dan Korea Selatan.

Kata dia, negara-negara lain lebih terikat terhadap ekspor dan impor. Sehingga ketika perdagangan internasional lesu, perekonomian negara tersebut ikut mati.

Kata Hariyadi, Indonesia bisa kembali membaik jika pemerintah meningkatkan daya konsumsi dalam negeri.

"Nah kita kebetulan ekspor kita memang tidak terlalu dominan. Sehingga sebetulnya kalau kita kerja keras dengan menjaga ekonomi domestik kita, kemungkinan untuk lolos dari resesi masih sangat mungkin," kata Hariyadi dalam diskusi virtual, Rabu (5/8/2020).

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi indonesia pada kuartal II 2020 minus 5,32% dibanding periode yang sama tahun lalu. Kepala BPS Suhariyanto menyebut kontraksi tersebut merupakan yang paling rendah sejak kuartal I tahun 1999.

"Pertumbuhan Q2 pada tahun 2020 ini mengalami kontraksi sebesar 5,32 persen kalau kita melacak kembali kepada pertumbuhan ekonomi secara triwulanan kontraksi 5,32 persen ini adalah terendah sejak triwulan 1 tahun 1999 jadi pada triwulan 1 tahun 1999 pada waktu itu mengalami kontraksi sebesar 6,13 persen," kata Suhariyanto, Rabu (5/8/20).

Suhariyanto menjelaskan, dari minus 5,32 persen ini terdiri dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi pertumbuhan tertinggi sebesar 30,84 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa serta Impor Barang dan Jasa mengalami kontraksi pertumbuhan masing-masing sebesar 11,66 persen dan 16,96 persen.

Suhariyanto meminta semua pihak membangun optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi triwulan selanjutnya bakal lebih baik salah satunya karena kebijakan relaksasi PSBB dan lainnya. Ia meminta masyarakat optimistis supaya geliat ekonomi Indonesia terus bergerak. Cara utamanya adalah dengan menerapkan protokol kesehatan agar tak terjadi penyebaran Covid-19 sehingga ekonomi membaik.

Berita Terkait:


Sebelumnya Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah membuat skenario pelemahan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Skenario dibuat berdasarkan sejumlah indikator, salah satunya tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), yakni:

  • Skenario berat: terjadi jika pertumbuhan PDB berada di kisaran 2,3 persen year-on-year.
  • Skenario sangat berat: terjadi jika pertumbuhan PDB berada di kisaran -0,4 persen year-on-year.

Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

RS di Jalur Gaza Kewalahan Tampung Pasien Covid-19

Kabar Baru Jam 7

Kisah Pendamping Program Keluarga Harapan Edukasi Warga Cegah Stunting

Siapkah Sekolah Kembali Tatap Muka?

Eps8. Food Waste