KIARA: Tumpahan Minyak Pertamina Berdampak pada 1.200 Keluarga Nelayan

“Kami menuntut pemerintah pusat untuk turun dan membereskan persoalan ini. Masyarakat terdampak semakin menderita akibat kecerobohan Pertamina.”

BERITA , NASIONAL , NUSANTARA

Jumat, 30 Agus 2019 13:59 WIB

Author

Adi Ahdiat

KIARA: Tumpahan Minyak Pertamina Berdampak pada 1.200 Keluarga Nelayan

Tumpukan karung limbah minyak di Pantai Mekarjaya, Karawang, Jawa Barat (8/8/2019). Menurut laporan Pertamina (7/8/2019), limbah yang dikumpulkan di pesisir sudah melebihi sejuta karung, dengan berat total 4.915 ton. (Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan)

KBR, Jakarta - Sumur minyak Pertamina di perairan Karawang, Jawa Barat, mengalami kebocoran pada pertengahan Juli 2019 lalu. Puluhan ribu barel minyak mentah pun luber hingga mencemari lautan dan sejumlah kawasan pesisir.

Menurut pantauan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), sampai sekarang pencemaran itu belum berhasil ditangani dengan baik, hingga berdampak pada lebih dari 1.200 keluarga nelayan di Karawang.


Dampak Kesehatan dan Ekonomi

“Pada 28 Agustus 2019, ketebalan limbah di pesisir Desa Mekarjaya, Kecamatan Cibuaya, mencapai 50 cm, menyebabkan masyarakat mengalami sesak nafas," ungkap Sekjen KIARA Susan Herawati dalam rilis yang diterima KBR, Kamis (29/8/2019).

Selain sesak nafas, KIARA menemukan ada sejumlah keluarga yang mengalami infeksi kulit, gatal-gatal, pusing, dan batuk-batuk, di kawasan yang tercemar limbah Pertamina.

"Sektor ekonomi keluarga nelayan juga paling terpukul. Diperkirakan, 1.689 perahu terkena ceceran limbah, 5.000 hektare tambak udang dan bandeng yang dominan tersebar di 10 desa terpaksa dikeringkan mencegah limbah masuk, juga 108,2 hektare tambak garam gagal panen," papar Susan.

"Artinya, limbah dari Pertamina ini sudah tidak lagi dianggap sebagai hal yang biasa, ini adalah kiamat industri bagi perairan Karawang," lanjutnya.


Tagih Tanggung Jawab Pemerintah dan Pertamina

Menanggapi hal ini, Sejen KIARA Susan Herawati mendesak pertanggungjawaban pemerintah dan Pertamina.

“Kami menuntut pemerintah pusat untuk turun dan membereskan persoalan ini. Masyarakat terdampak semakin menderita akibat kecerobohan Pertamina,” tegas Susan.

“Lebih jauh, Pertamina harus segera melakukan pemulihan ekologis karena pencemaran telah menyebar sangat jauh ke Kepulauan Seribu. Di Karawang Sendiri kawasan mangrove seluas 420 hektare tercemar,” sambungnya.

Susan pun meminta Pertamina agar segera membuka informasi kepada publik soal penyebab terjadinya kebocoran minyak di Perairan Karawang.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Bagaimana Kedaulatan Perempuan atas Tanah bila RUU Pertanahan Disahkan?

Kabar Baru Jam 13

Penolakan RUU Pertanahan di Hari Tani