2023, Indonesia Bakal Ekspor Perdana Mobil Listrik

Airlangga mengatakan, "Australia menjadi negara tujuan ekspor mobil listrik jika kandungan lokalnya 35 persen."

BERITA , NASIONAL , KABAR BISNIS

Rabu, 07 Agus 2019 20:45 WIB

Author

Dian Kurniati

2023, Indonesia Bakal Ekspor Perdana Mobil Listrik

Mobil Lowo Ireng Reborn di ITS Surabaya, Jawa Timur, Kamis (18/7/2019). Merupakan mobil listrik yang ramah lingkungan serta mampu melaju lebih dari 160 km per jam. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menargetkan Indonesia bisa melakukan ekspor perdana mobil listrik produksi dalam negeri pada 2023.

Airlangga menyebut, Australia dapat menjadi negara tujuan ekspor mobil listrik jika kandungan komponen lokalnya mencapai 35 persen. 

Sedangkan untuk mendukung pengembangan industri mobil listrik nasional, Airlangga menegaskan, pemerintah telah menyiapkan aturan berupa Peraturan Presiden (Perpres) dan Peraturan Pemerintah (PP) yang memuat fasilitas untuk industri penyedia baterai mobil listrik.

Adapun beleid berupa revisi PP nomor 41 tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah, akan mengatur insentif perpajakan untuk mobil listrik. Airlangga menyebut, aturan soal diskon tarif PPnBM tersebut akan mulai berlaku pada 2021.

"Revisi PP 41 itu terkait dengan perubahan sistem fiskal perpajakan terkait PPnBm. Jadi PPnBM ini nanti mengacu kepada berbasis emisi. Insentifnya apabila itu fuel electric, atau fuel cell yang emisinya 0, PPnBM-nya 0," kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta pada Rabu (7/8/2019).

Ditambahkan Airlangga, diskon tarif PPnBM itu akan diberikan kepada seluruh mobil listrik produksi dalam negeri.

Namun, khusus mobil kategori mewah atau setara dengan kendaraan berkapasitas lebih dari 4.000 cc, tetap akan dikenai PPnBM tinggi.

Airlangga berujar, keseluruhan perkembangan teknologi sudah dipertimbangkan pemerintah, dan regulasi tersebut akan mulai berlaku pada 2021. Dengan demikian, pemerintah memberi waktu pada industri untuk berproduksi selama tiga tahun, untuk kemudian dipasarkan. 

Pemerintah, kata Airlangga, akan selalu mendorong industri menggunakan banyak komponen lokal, dengan mensyaratkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) hingga 35 persen pada 2023.

Jika syarat tersebut terpenuhi, mobil listrik produksi Indonesia bisa dipasarkan hingga ke Australia, sesuai dengan kesepakatan Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/IA-CEPA).

Adapun pada tahap awal ini, industri diberi kesempatan untuk mengimpor mobil secara utuh (completely build up), sebelum diwajibkan menggunakan komponen lokal 35 persen dalam tiga tahun. 

Kata Airlangga, saat ini sudah ada empat perusahaan yang berminat memproduksi mobil listrik di Indonesia. Sedangkan untuk infrastrukturnya masih dipersiapkan oleh PT PLN dan PT Pertamina.

Editor: Fadli Gaper

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pascapenggerebekan, Mahasiswa Papua di Surabaya Trauma