WIEF 2016, Menkeu Sri Mulyani Ungkap 3 Strategi Dorong UMKM

Ia pun menjelaskan, UMKM adalah jenis usaha yang mampu menjadi penolong saat terjadi guncangan ekonomi dunia.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 02 Agus 2016 14:20 WIB

Author

Dian Kurniati

WIEF 2016, Menkeu Sri Mulyani Ungkap 3 Strategi Dorong UMKM

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (tengah) menjawab sejumlah pertanyaan wartawan. (Foto: Antara)



KBR, Jakarta - Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM memegang peran penting dalam pertumbuhan ekonomi dan produk domestik bruto sebuah negara. Hal ini disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani ke para delegasi di Forum Ekonomi Islam Dunia (WIEF) ke-12. Itu sebab kata dia, setidaknya ada tiga strategi untuk memaksimalkan peran UMKM.

"WEIF 2016 mengambil tema desentraliasi pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan bisnis masa depan, yang membawahi usaha mikro, kecil, dan menengah, yang menurut saya untuk stimulus ekonomi dan membawa aspriasi besar ke depan dalam tiga langkah penting," kata Sri di Jakarta Convention Center, Selasa (2/8/16).

Ia pun menjelaskan, UMKM adalah jenis usaha yang mampu menjadi penolong saat terjadi guncangan ekonomi dunia. Sektor ini terbukti mampu menyerap banyak tenaga kerja. Karenanya, strategi pertama yakni negara harus membuka kesempatan kepada pelaku UMKM untuk memasarkan produknya. Terlebih, sebagian UMKM kini telah merambah negara-negara Islam.

Hal kedua yang harus dilakukan, lanjutnya, adalah menumbuhkan jumlah UMKM di setiap negara. Salah satunya, dengan mendorong inovasi teknologi dalam pengembangan sektor tersebut.

"Pemerintah harus memfasilitasi gagasan baru itu, agar menjadi konsep layak ekonomi, agar para start up itu bisa mudah bertemu investor," imbuhnya.

Terakhir, ia pun menegaskan, yang tak kalah penting adalah mentransfer konsep-konsep ekonomi yang lahir dari helatan ekonomi dunia seperti WIEF ini untuk diterapkan menjadi sebuah kebijakan strategis. Bukan hanya gagasan semata.

"Pentingnya mentransfer kebijakan terkait UMKM menjadi tindakan nyata. Akan sia-sia apabila kebijakan tidak dijalankan," pungkasnya.


Indonesia Pasar Ekonomi Islam

Dalam gelaran ekonomi ini, bekas Direktur Pelaksana Bank Dunia ini pun menambahkan, ekonomi dan bisnis berdasarkan prinsip Islam berpotensi besar untuk dikembangkan di negara dengan mayoritas warga muslim seperti Indonesia. Profil demografi ini akan menguntungkan Indonesia karena apabila dikembangkan dengan baik, ekonomi Islam akan bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

"WIEF dilaksanakan tepat dengan memasukkan Indonesia. Sebab Indonesia adalah pasar yang besar dalam menjalankan ekonomi Islam," tuturnya.

Apalagi, kata dia, sebanyak 50 persen dari total populasi muslim di Indonesia tergolong masyarakat produktif dengan usia di bawah 30 tahun dan angkatan kerja berpendidikan. Itu sebab kata dia, Indonesia bisa menjadi salah satu pemain penting di dunia dalam sektor ekonomi syariah. Potensi SDM ini, kata dia, akan mendorong Indonesia mencapai target sebagai pusat ekonomi syariah dunia.

Mulai Selasa (2/8/2016) hingga dua hari ke depan digelar Forum Ekonomi Islam Dunia ke-12. Forum ini dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Dalam helatan tersebut, hadir kepala negara beserta menteri keuangan dari 18 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Selain itu, sekira 2500 peserta dari 60 negara dengan berbagai level, mulai dari pimpinan negara, menteri, pelaku usaha, hingga akademisi juga turut mengikuti gelaran ekonomi dunia ini. Pada WIEF 2016 ini juga akan digelar festival tentang kesenian, termasuk bisnis kuliner halal dan fashion muslim.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme