Penolak Semen di Kendeng Hanya 10%, Komnas HAM Kecam Menteri BUMN

"Sebagai seorang menteri juga tidak seharusnya problem pro-kontra itu minoritas-mayoritas."

BERITA | NASIONAL

Rabu, 10 Agus 2016 21:53 WIB

Author

Rio Tuasikal

Penolak Semen di Kendeng Hanya 10%, Komnas HAM Kecam Menteri BUMN

Ilustrasi: Presiden Jokowi bersama warga Kendeng yang menolak pabrik semen di daerahnya. (Foto: Woelong)



KBR, Jakarta- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengecam pernyataan Menteri BUMN Rini Soemarno yang menyatakan pabrik semen di Kendeng hanya ditolak 10 persen warga. Rini menyampaikan hal itu ketika meninjau Kendeng, Selasa (9/8/2016) kemarin.

Anggota Komnas HAM Nurkhoiron menyatakan pernyataan Rini itu bisa membuat situasi tidak kondusif. Padahal, pemerintah baru akan menggelar Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) di Kendeng untuk mengevaluasi pembangunan pabrik semen secara keseluruhan.

“Sebagai seorang menteri juga tidak seharusnya problem pro-kontra itu minoritas-mayoritas.  Misalnya orang yang menolak itu hanya segelintir kemudian suaranya dikesampingkan,” ungkapnya kepada KBR, Rabu (10/8/2016) malam.

“Yang penting kan argumentasinya itu bisa diterima. Kalau argumentasinya asal ya itu yang merepotkan,” jelasnya lagi.

Nurkhoiron menambahkan, seharusnya Rini bersikap sejalan dengan Presiden Joko Widodo yang menghendaki KLHS. Lembaganya menyerukan seluruh pihak untuk mendukung keputusan presiden selama diberlakukan setahun ke depan.

“Perlu ditegaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan informasi yang utuh dan benar,” imbuhnya.

Presiden memutuskan menggelar KLHS di pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, menyusul banyaknya konflik pembangunan pabrik semen di wilayah itu. Hal itu disepakati usai sembilan Kartini Kendeng bertemu Jokowi di Istana,Selasa (2/8/2016) lalu 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Cerdik Kelola THR

Kabar Baru Jam 8

Soal Kerumunan, Kegiatan Ibadah dan Ancaman Virus Covid-19 Varian Baru

Jihad itu Sebenarnya Apa Sih?