Netizen: Kangen Dirimu, Gus Dur...

"Kangen jenengan Gus.... #HarlahGusDur," cuit jaringan GUSDURians Probolinggo.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 04 Agus 2016 14:49 WIB

Author

Agus Lukman

Netizen: Kangen Dirimu, Gus Dur...

Gus Dur. (Foto: kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id)

KBR, Jakarta - KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009 lalu, dan meninggalkan duka bagi banyak kalangan. Setiap tahun, saat peringatan wafatnya Gus Dur, upaya-upaya menghidupkan semangat Gus Dur terus dilakukan, terutama untuk mengobati kerinduan akan sosok Gus Dur, serta membangkitkan optimisme yang tergerus zaman.

Upaya serupa juga dilakukan saat peringatan hari kelahiran Gus Dur.



Uniknya, atau beruntungnya, Gus Dur memiliki dua tanggal kelahiran yang selalu bisa dijadikan hari-hari penting untuk diingat. Versi pertama adalah Gus Dur lahir pada 4 Agustus 1940. Versi kedua, ia lahir 7 September 1940.

Jaringan GUSDURian secara resmi juga memperingati hari lahir Gus Dur pada 4 Agustus. Bahkan tahun ini Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian mengadakan Gerakan Nasional Melacak Jejak Gus Dur, yang tersebar di seluruh penjuru. Gerakan ini untuk mendata tokoh-tokoh yang pernah berinteraksi dengan Gus Dur, mendata tempat-tempat yang pernah didatangi Gus Dur dan sebagainya.

Dalam buku Biografi Gus Dur karya Greg Barton, ditulis bahwa ihwal perbedaan tanggal lahir Gus Dur ini disebabkan karena ibunda Gus Dur, Solichah, mengingat saat kelahiran putra sulungnya sebagai tanggal empat bulan delapan.

Berdasarkan kalender Islam, bulan delapan adalah bulan Sya'ban. Tanggal 4 Syaban di tahun 1940 adalah 7 September. Namun, petugas pencatat kelahiran di desa saat itu mencatat kelahiran tanggal empat bulan delapan adalah 4 Agustus 1940 berdasar kalender nasional, dan itu kemudian diperingati hingga kini.

Gus Dur teralhir dengan nama Abdurrahman Addakhil. Addakhil artinya Sang Penakluk. Namun karena Addakhil tidak cukup dikenal, maka diganti Wahid seperti nama depan ayahnya, KH Wahid Hasyim.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, masyarakat juga memperingati hari lahir Gus Dur pada Kamis (4/8/2016). Bahkan, peringatan ini memuncaki topik terpopuler di media sosial Twitter dengan hashtag atau tanda pagar #HarlahGusDur.

Kerinduan terhadap Gus Dur juga banyak dilontarkan para Netizen saat memperingati Harlah Gus Dur pada 4 Agustus ini.

"Kangen jenengan Gus.... #HarlahGusDur," cuit jaringan GUSDURians Probolinggo yang di-retweet Seknas Jaringan GUSDURians.



Netizen juga menghidupkan ingatan dengan menampilkan tulisan-tulisan lama kenangan mengenai Gus Dur. Situs NU Online (akun @nu_online) mengingatkan publik mengenai kisah Gus Dur dan Abah Afandi saat mengusir maling di Pondok.

Putri tertua Gus Dur, Alissa Qatrunnada Wahid juga berbagi kenangan mengenai ayahnya.

"Gus Dur punya banyak kelemahan dan kesalahan. Sedangkan keunggulan beliau adalah ketulusan dan kegigihan berjuang demi umat," kata Alissa Wahid lewat akun Twitter @AlissaWahid.

"Bagi Gus Dur, tugas pemimpin adalah menegakkan keadilan demi kemanusiaan. Maka tak perlu gengsi mengaku salah. Setiap bangsa mengalami belokan-belokan yang salah, kata Gus Dur. Indonesia juga banyak mengalami itu. Maka perlu legowo meluruskannya," lanjut Alissa Wahid.



Pengurus PCINU Amerika-Kanada, Akhmad Sahal (akun @sahal_AS juga menghidupkan ingatan publik tentang Gus Dur lewat pandangan KH Sahal Mahfudz almarhum.

"Islam kaffah itu bukannya pro khilafah atau negara Islam, tapi mengabdikan seluruh hidupnya untuk ibadah. #HarlahGusDur," tulis Akhmad Sahal. Sahal menyitir petuah Gus Dur tentang hikmah 'Alhayatu ibadatun kulluha'. "Hidup itu seluruhnya ibadah pada-Nya. Karena itu manusia harus memelihara kemuliaan kehidupan," begitu petuah Gus Dur.

Gus Dur merupakan sosok santri yang 'di luar kebiasaan' dalam belajar ilmu di luar ilmu agama. Jaringan GUSDURian menulis, Gus Dur kecil merupakan pecandu buku kelas berat.

Di usia 10 tahun, Gus Dur sudah akrab dengan buku-buku serius seperti filsafat, sejarah hingga sastra. Bahkan ketika duduk di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP/setingkat SMP), Gus Dur sudah terbiasa melahap buku berbahasa Inggris.

"Gus Dur sudah terbiasa melahap beberapa buku berbahasa Inggris. Diantaranya buku Das Kapital karya Karl Marx, buku filsafat Plato, Thalles, novel karya William Bochner. Sedangkan karya sastra yang dibaca adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbeck dan William Faulkner," tulis @GUSDURians.



Ketika banyak orang di Indonesia mengidolakan Presiden Turki Recep Tayeb Erdogan yang mempertahankan kekuasaan dengan pengerahan militer, pegagum Gus Dur mengutipkan pernyataan Gus Dur saat ia dilengserkan dari jabatan Presiden ke-4 RI.

"Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian," kata Gus Dur saat itu.



"Hadiah terbaik bagi Gus Dur bukan disanjung atau disebut pahlawan, tapi bila prinsip keadilan yang diteladankannya bisa kita lanjutkan," kata Alissa Wahid. 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Rencana Pembentukan Komponen Cadangan Militer Tuai Polemik