Indonesia Minta Turki Jelaskan Alasan Penangkapan 2 WNI

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi meminta pemerintah Turki menjelaskan alasan penangkapan dua mahasiswi Indonesia di Kota Bursa, Turki.

BERITA | NASIONAL

Sabtu, 20 Agus 2016 14:52 WIB

Author

Ninik Yuniati, Ria Apriyani

Indonesia Minta Turki Jelaskan Alasan Penangkapan 2 WNI

Seorang pria membaca daftar nama korban tewas akibat percobaan kudeta yang gagal, di Istanbul Turki, (20/7/2016). Pemerintah Turki menuding kudeta didalangi kelompok pendukung ulama Fethullah Gulen. (

KBR, Jakarta - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi meminta pemerintah Turki menjelaskan alasan penangkapan dua mahasiswi Indonesia di Kota Bursa, Turki. Keduanya ditangkap pada 11 Agustus lalu oleh aparat keamanan setempat, di sebuah rumah yang dikelola Yayasan Gulen. Mereka dituduh ikut serta dalam aktivitas Fethullah Gulen, tokoh Turki yang oleh pengadilan dituding terlibat dalam kudeta gagal pada Juli lalu.

"Kita ingin mendapatkan penjelasan apa alasan pemangkapan tersebut. Kedua, kita segera minta akses kekonsuleran, karena dengan mendapatkan akses kekonsuleran tsb, satu, kita dapat bertemu dengan warga negara kita dan kedua, kita dapat memperoleh informasi dari warga negara kita," kata Retno di kantor Kementerian Luar Negeri, Jumat (19/8/2016).

Selain itu, Menlu Retno juga memastikan, tengah berupaya mengakses perwakilan di Turki agar bisa bertemu dengan dua WNI tersebut. Kata dia, pemerintah juga meminta Turki menghormati hak-hak hukum mereka.

"Kita ingin meyakinkan bahwa semua hak-hak hukum warga negara kita dihormati oleh otoritas Turki," imbuhnya.

Baca juga: WNI yang Ditangkap di Turki

Retno Marsudi pun menambahkan, pemerintah telah meminta Turki memberikan perlindungan bagi pelajar-pelajar Indonesia yang tengah studi di sana. Kata dia, perwakilan Kementerian telah bertemu Duta Besar Turki di Jakarta dan juga otoritas di Ankara.

"Kita memintakan perlindungan pemerintah Turki terhadap pelajar-pelajar Indonesia,"  ujarnya.

Menurut Retno, permintaan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah Turki di Ankara. "Dan bagi otoritas di Ankara yang kita mintakan, mereka sedang melakukan koordinasi satu sama lain," tambahnya.


Pendampingan 2 Mahasiswa

Sementara Pemerintah Turki masih mendalami keterlibatan dua mahasiswi Indonesia yang dituding terkait dengan Fethullah Gulen, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Armanatha Nasir memastikan, kondisi kedua pelajar tersebut dalam pemantauan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ankara.

"Intinya yang terjadi adalah yang bersangkutan tinggal mendapatkan beasiswa dari PASIAD, dan tinggal di rumah dimana yang memiliki rumah itu terafiliasi dengan kelompok yang dicurigai oleh pemerintah setempat," kata Armanatha kepada KBR.

Keduanya, lanjut Armanatha, telah didampingi oleh kuasa hukum selama menjalani proses investigasi dari kepolisian setempat.

Baca juga:

Bila nantinya kedua pelajar tersebut terbukti tak terlibat dengan kelompok Fethullah Gulen, maka keduanya akan dibebaskan. Namun jika yang terjadi sebaliknya, Armanatha masih enggan mengatakan apa tindakan pemerintah Indonesia.

"Saya tidak mau menjawab sesuatu yang berandai-andai. (Prosedurnya?) Tentu sesuai hukum yang berlaku disana."

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri memaparkan, dua WNI tersebut adalah mahasiswi berinisial DP asal Demak, Jawa Tengah dan YU, asal Aceh. Keduanya sewaktu ditangkap memang mengakui tinggal di rumah yang dikelola Yayasan Gullen.

Kedua mahasiswi itu mendapat beasiswa dari Pasific Countries Social and Economic Solidarity Association (PASIAD). Organisasi ini oleh pemerintah Turki dianggap terkait dengan Fethullah Gullen. Pada akhir Juli lalu, Turki bahkan meminta pemerintah Indonesia menutup sembilan sekolah lantaran diduga bekerja sama dengan PASIAD.




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Bekas Napi Koruptor Harus Jeda Lima Tahun Sebelum Maju di Pilkada