Dewan Masjid Kaji Aturan Jangkauan Pengeras Suara Radius 300 Meter

"Kita sedang mengkaji sistem akustik masjid, sehingga suara speaker itu akan lebih nyaman kalau jaraknya maksimal 300 meter," kata Sekjen DMI Imam Addaruqutni.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 02 Agus 2016 13:17 WIB

Author

Agus Lukman

Dewan Masjid Kaji Aturan Jangkauan Pengeras Suara Radius 300 Meter

Ilustrasi (Bimas Islam)



KBR, Jakarta -  Dewan Masjid Indonesia tengah mengkaji sistem akustik dalam pengaturan penggunaan pengeras suara atau speaker di masjid. Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia Imam Addaruqutni mengatakan sistem akustik ini dimaksudkan agar tidak terjadi polusi suara di masyarakat karena penggunaan pengeras suara di masjid-masjid terutama di daerah perkotaan.

Baca: Kemenag Segera Tinjau Aturan Pengeras Suara di Masjid

Imam Addaruqutni mengatakan sistem akustik diperlukan untuk mengatur agar suara pengeras suara dari masjid bisa nyaman didengar oleh masyarakat di lingkungan sekitar.

"Kita pendengar itu di satu tempat bisa mendengarkan suara speaker itu dari lima masjid, bergantian. Tidak fokus jadinya. Ini soal pengaturan, bukan pembatasan, sehingga suara bisa lebih nyaman didengar. Kita sedang mengkaji sistem akustik masjid, sehingga suara speaker itu akan lebih nyaman kalau jaraknya maksimal 300 meter. Maka masjid sebelah juga menjangkau 300 meter, sehingga dalam dalam radius 300 meter itu yang nyaman, karena tidak berbenturan dengan masjid lain," kata Imam kepada KBR, Selasa (2/8/2016).

Selain itu, Dewan Masjid juga  mengkaji mengenai standar desibel kekuatan suara maksimal dalam penggunaan pengeras suara.

Baca: Kaukus Pancasila DPR: Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Belajarlah dari Mesir

Kasus Tanjungbalai

Kajian soal pengeras suara di masjid kembali menjadi diskusi di publik setelah terjadi kerusuhan di Tanjungbalai Sumatera Utara. Belasan rumah ibadah wihara dan klenteng dirusak dan dibakar massa yang mengamuk. Kerusuhan dipicu provokasi yang menyebutkan ada protes warga terkait penggunaan pengeras suara di masjid yang dianggap mengganggu ketenangan.

Meski begitu, Sekjen Dewan Masjid Indonesia Imam Addaruqutni mengatakan kasus di Tanjungbalai Sumatera Utara tidak serta merta dipicu oleh masalah pengeras suara. Karena pengeras suara di masjid atau mushola sudah lazim digunakan di Indonesia sejak lama.

"Azan (menggunakan pengeras suara) itu sudah terjadi dimana-mana sejak lama, sudah fenomena, dan selama ini tidak masalah. Saya kira ada yang lebih serius dari itu. Pemerintah perlu melihatnya lebih dalam. Soal azan dengan pengeras suara itu bisa saja jadi pemicu, tapi bisa juga itu dijadikan kambing hitam," lanjut Imam.

"Boleh dikatakan ada persoalan, boleh dikatakan ya persoalannya begitu saja, tidak mengarah ke konflik. Tapi memang akhir-akhir ini, masalah itu muncul. Bukan saja di Tanjungbalai, sebelumnya ada di Tolikara. Kalau soal azan ini jadi persoalan, tentunya sudah terjadi lama. Jadi ini mungkin ada faktor lain yang butuh pendalaman masalah," kata Imam Addaruqutni.
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18