BPS: Rasio Gini Turun, Ketimpangan Ekonomi Membaik

"Tren penurunan gini ratio mulai terlihat pada September 2014."

BERITA , NASIONAL

Jumat, 19 Agus 2016 12:07 WIB

Author

Dian Kurniati

BPS: Rasio Gini Turun, Ketimpangan Ekonomi Membaik

Ilustrasi. Seorang ibu duduk di depan rumah tidak layak huni. (Foto: kemsos.go.id)



KBR, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat koefisiensi ketimpangan atau gini ratio pada Maret 2016 turun ke level 0,397 dari sebelumnya 0,402 pada September 20115.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, dilihat secara rinci, komposisi 40 persen masyarakat dengan pengeluaran terbawah, 40 persen menengah, dan 20 persen teratas. Pada periode Maret 2016, masyarakat yang tumbuh paling besar berasal dari kelompok dengan pengeluaran menengah.

"Dengan menurunnya gini ratio, yang sekarang sudah turun ke level 0,397, sudah turun dari 0,4. Penurunan gini ratio menunjukkan adanya penurunan ketimpangan, kesenjangan, antara yang sangat kaya dengan yang sangat miskin. Berarti adanya peningkatan pendapatan pada kelompok menengah ke bawah," kata Suryamin di kantornya, Jumat (19/08/16).

Koefisien gini (gini ratio) adalah ukuran derajat ketidakmerataan atau ketimpangan distribusi penduduk. Angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Semakin mendekati nol, maka semakin baik. Sebaliknya semakin mendekati 1, maka perekonomian semakin timpang (tidak merata).

Suryamin mengatakan, tren penurunan gini ratio mulai terlihat pada September 2014. Saat itu, gini ratio sebesar 0,414. Level gini ratio menurun pada Maret 2015 menjadi 0,408, dan turun lagi pada September 2015 menjadi 0,402.

Apabila dikelompokkan berdasarkan tempat tinggal, gini ratio di perkotaan menurun dari September 2015 sebesar 0,419 menjadi 0,410 pada Maret 2016. Di pedesaan, gini ratio pada September 2015 sebesar 0,329 turun menjadi 0,327 pada Maret 2016.

Penyebab Turunnya Rasio Gini

Suryamin berujar, setidaknya ada beberapa penyebab turunnya koefisiensi gini.

Penyebab itu di antaranya karena terjadi peningkatan pendapatan  dan pengeluaran untuk kelompok 40 persen menengah, dan 20 persen berpengeluaran tertinggi mengalami penurunan, sehingga semakin terjadi pemerataan.

BPS menyebutkan, upah buruh tani dan buruh bangunan harian sama-sama mengalami kenaikan. Kenaikan upah buruh tani, pada September 2015 senilai Rp 46.180 naik menjadi Rp 47.559 pada Maret 2016 atau naik 2,99 persen. Adapun upah buruh bangunan harian naik dari Rp 79.657 menjadi Rp 81.481 atau naik 2,29 persen.

Mengenai pengeluaran, rata-rata pengeluaran kelompok penduduk terbawah juga naik dari Rp 416.489 per bulan pada September 2015 menjadi Rp 423.969 pada Maret 2016.

Selain itu, perekonomian penduduk kelas menengah ke bawah juga semakin menguat berkat upaya pembangunan infrastruktur padat karya, bantuan sosial, serta perbaikan pendapatan PNS golongan bawah.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

News Beat

Kabar Baru Jam 20

Ngopi Bersama Azul Eps33: Gembira Bersama Temenggung

Kabar Baru Jam 19