Bagikan:

Target Swasembada Daging, ASPIDI: Bulog Harus Serap Sapi Peternak

Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (ASPIDI) meminta Bulog menyerap sapi peternak guna mempercepat swasembada daging.

BERITA | NASIONAL

Sabtu, 15 Agus 2015 20:35 WIB

Author

Zay Nova

Pedagang daging sapi. Foto: Antara

Pedagang daging sapi. Foto: Antara

KBR,Jakarta- Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (ASPIDI) meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) menyerap sapi peternak guna mempercepat swasembada daging. Ketua ASPIDI Thomas Sembiring menilai, upaya itu dapat dilakukan Bulog, seperti halnya perusahaan pelat merah itu menyerap bawang dan cabai dari petani lokal, serta melakukan operasi pasar.

Selain itu, penyerapan daging lokal ini juga untuk  menunjukkan keyakinan pemerintah mewujudkan swasembada daging nasional. Jika upaya ini tidak dilakukan, ia memperkirakan kondisi yang sama bakal kembali terjadi tahun depan.

"Menteri Pertanian yang lama sebelum mengundurkan diri tahun 2014, dia menyatakan swasembada sapi gagal karena salah hitung. Tapi menteri sekarang mengatakan 2015 sudah swasembada daging dengan memperhitungkan angka konsumsinya 454 ribu ton, sedangkan impor kita baik sapi hidup maupun daging semester pertama bulan ini saja sudah 90 ribu ton, jadi sudah 20 persen kalau ini berlangsung tetap enam bulan lagi, kita impor setara dengan 90 ribu, berarti 40 persen kalau begitu berarti sama dengan 2013," kata Thomas pada KBR, Sabtu (15/08).

Thomas mengatakan, target pemerintah terkait swasembada daging 2015 terkesan main-main dan berusaha ditutupi manakala gagal. Target swasembada ini sudah berulang kali dijanjikan, namun hingga kini belum juga tercapai.

Rencana swasembada ini semakin sulit dicapai, dikarenakan banyaknya sapi betina yang disembelih jelang Idul Fitri, sementara sapi jantan kebanyakan dijual saat Idul Adha, karena memiliki nilai jual tinggi. Padahal, untuk mencapai swasembada tak seharusnya sapi betina dipotong melainkan harus dikembangbiakkan.

Selain itu menurutnya, kebijakan pengurangan impor yang dilakukan pemerintah saat ini dinilai tidak tepat, karena dikeluarkan saat permintaan tinggi. Seharusnya pemerintah dapat melakukan hal tersebut seusai perayaan Hari Raya Idul Adha. 


Editor: Sindu Dharmawan

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ragam Syarat Beli Minyak Goreng Curah, Efektifkah?