Ketua MK: Putusan MK Tentang Pasal Penghinaan Presiden, Final dan Mengikat

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat menegaskan bahwa putusan MK yang sudah pernah diketuk palu bersifat final dan mengikat.

BERITA | NASIONAL

Senin, 10 Agus 2015 15:07 WIB

Author

Aisyah Khairunnisa

Ketua MK: Putusan MK  Tentang Pasal  Penghinaan Presiden,  Final dan Mengikat

Mahkamah Konstitusi. Foto: Antara

KBR, Jakarta - Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat menegaskan bahwa putusan  yang sudah pernah diketuk palu bersifat final dan mengikat. Hal ini ia sampaikan terkait peluang dihidupkannya kembali pasal penghinaan presiden. Pasal yang pernah dibatalkan MK itu, kini masuk dalam Revisi Undang-undang KUHP. 

"Putusan MK itu bersifat final dan mengikat. Itu saja," kata Arief di Kompleks Istana Kepresidenan setelah bertemu Jokowi.

"Ada beberapa memang terjadi (pasalnya dihidupkan kembali), kemudian dibuatkan lagi dengan landasan filosofi yang lain, landasan yuridis yang lain," kata Arief, Senin (10/8/2015).

Arief menambahkan, memang ada undang-undang yang berhasil dihidupkan kembali, meski sebelumnya sudah dibatalkan MK. Misalnya uji materi terhadap UU MPR, DPR dan DPD (UU MD3) terkait kewenangan DPD dalam pembuatan Undang-Undang. Kata Arief dirinya tidak bisa memberi penilaian terhadap usulan menghidupkan kembali pasal penghinaan presiden. Ini lantaran kode etik hakim di MK tidak memperbolehkan seorang hakim mengomentari putusan hakim lain. 

Pada 2006 lalu pasal penghinaan presiden dalam UU KUHP dibatalkan oleh MK. Saat itu Jimly Asshiddiqie menjadi ketua majelis hakim. Namun dalam pembahasan di DPR tahun ini, pemerinah mengusulkan penghinaan presiden kembali masuk dalam RUU KUHP.  


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Rencana Pembentukan Komponen Cadangan Militer Tuai Polemik