covid-19

Wiji Thukul: Si Penyair Musuh Orde Baru

Kalau masih hidup, sang penyair hari ini berusia 51 tahun.

NASIONAL

Selasa, 26 Agus 2014 11:09 WIB

Author

Sefiana Putri

Wiji Thukul: Si Penyair Musuh Orde Baru

Wiji Thukul

KBR, Jakarta – Wiji Thukul, nama ini mungkin asing di telinga sebagian orang. Tidak banyak yang tahu siapa itu Wiji Thukul dan apa yang sudah dia lakukan. Lewat tulisan ini, kami ingin mengingatkan Anda soal sosok Wiji Thukul, sekaligus mengucapkan selamat ulang tahun ke-51 untuk sang penyair - jika ia masih hidup. 


Orangnya kurus, tapi nama Wiji Thukul sempat membuat Orde Baru ketar-ketir karena puisi gubahannya. 


Lelaki kelahiran 26 Agustus 1963 ini merupakan salah satu dari belasan aktivis yang hilang saat kerusuhan tahun 1996 - 1998. Namanya masuk ke dalam daftar orang hilang setelah istrinya, Siti Dyah Sujirah atau Sipon, melaporkan kehilangan suaminya pada LSM Kontras di tahun 2000. Hingga saat ini belum ada kabar tentang keberadaan atau kondisinya.

 

Sebelum peristiwa tahun 1996, Thukul sudah aktif melakukan demonstrasi. Beberapa demonstrasi yang pernah ia ikuti adalah protes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo tahun 1992 dan aksi petani di Ngawi tahun 1994. Ia sering melakukan orasi di depan massa saat sedang berdemonstrasi. Hal ini membuatnya sering dipukuli oleh aparat keamanan.

 

Selain menjadi aktivis, anak dari seorang penarik becak ini juga tertarik dan aktif di dunia seni. Sejak duduk di bangku SD ia sudah hobi menulis puisi dan ketika masuk bangku SMP ia tertarik dengan dunia Teater. Ia bahkan sempat melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia jurusan tari tapi berhenti di tengah jalan.

 

Thukul juga pernah mengikuti program jurusan seni topeng di Akademi Seni Karawitan Indonesia, sekarang ISI Surakarta. Beberapa topeng karyanya masih tersimpan di ISI. Jiwa seni yang bersatu dengan semangat aktivisnya ini membuatnya tergerak untuk mendirikan Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jakker) bersama seorang jurnalis sekaligus penulis buku, Linda Christanty. Jakker berdiri pada bulan Agustus 2004. Keduanya sepakat untuk berpihak pada rakyat tertindas dalam karya-karyanya.

 

Wiji Thukul menikah dengan Sipon pada tajun 1989. Pernikahannya ini dikaruniai dua orang anak, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. Kehidupan keluarga Thukul jauh dari kata mewah bahkan bisa dibilang kekurangan. Namun, di tengah kondisi ini, Thukul masih sempat mengajar anak-anak di sekitar rumahnya yang tergabung dalam Sanggar Suka Banjir.

 

Di sanggar ini anak-anak belajar menggambar, mengarang, membaca, dan bermain teater. Thukul mengajarkan hal-hal yang tidak mereka dapatkan di sekolah. Anak-anak ini belajar berekspresi dengan jujur tentang perasaannya dan percaya diri dalam mengatakan kebenaran. Hal ini dinilai pemerintah saat itu sebagai ancaman. Kegiatannya dianggap menggerakkan kebencian terhadap Orde Baru.

 

Melawan Orde Baru

 

Wiji Thukul terkenal akan puisinya yang sering digunakan oleh para aktivis saat demonstrasi. Beberapa puisinya yang populer adalah Peringatan, Sajak Suara, Bunga dan Tembok, dan Derita Sudah Naik Seleher. Puisi-puisi ini berisi kata-kata yang melawan pemerintah, jika dilihat dari kacamata rezim Orde Baru. 

 

Karyanya ini ternyata banyak ditentang oleh beberapa seniman zaman Orde Baru. Saat itu memang tidak banyak seniman yang berani berseberangan dengan pemerintah. Namun, puisi-puisinya tenyata berhasil memperoleh Wertheim Encourage Award di Belanda.

 

Melihat banyaknya perlawanan yang ia dapatkan, Thukul akhirnya memutuskan bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD). PRD merupakan partai yang mendukung perjuangan Partai Demokrasi Indonesia kubu Megawati. Saat itu partai berlambang banteng ini terpecah menjadi dua kubu, pro Soejardi dan pro Megawati. Pemerintah mendukung kubu Soerjadi karena kehadiran Megawati dianggap sebagai simbol perjuangan rakyat kecil. PRD dianggap menunggangi massa PDI yang besar untuk menghadapi pemerintahan Orde Baru.

 

Sikap PRD ini kemudian mengakibatkan peristiwa 27 Juli 1996 ketika PRD dituduh melakukan penyerangan ke kantor PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Sejak peristiwa inilah para kerabat kehilangan kontak dengan Wiji Thukul. Ia dikabarkan melarikan diri untuk bersembunyi dari kejaran aparat.

 

Dalam masa pelariannya, Thukul masih tetap menulis puisi-puisi pro demokrasi salah satunya berjudul Para Jendral Marah Marah. Namun, hanya puisinya saja yang muncul di internet. Lokasi keberadaannya sama sekali tidak diketahui. Beberapa orang mengaku pernah bertemu Thukul, salah satunya adalah Linda Christanty yang mendirikan Jakker bersamanya. Linda mengaku sempat kembali melakukan kerja sama tapi ia kembali kehilangan kontak bulan November 1997.

 

Belum jelas apakah Thukul masih hidup atau tidak hari ini. Kalau masih hidup, maka hari ini Wiji Thukul merayakan hari jadinya yang ke-51. Tapi kalaupun ia betul masih hidup, tidak ada yang mengetahui lokasi pastinya. Thukul hilang meninggalkan istri dan juga anak-anaknya yang saat itu masih kecil. Detik-detik perpisahan dengan keluarganya ini ia tuliskan dalam sebuah puisi berjudul Catatan. 


Editor: Antonius Eko 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Fasilitas Jalan Aman di Indonesia

Menyorot Klaster Covid-19 pada Pembelajaran Tatap Muka

Kabar Baru Jam 10