KBR, Jakarta - Kerjasama Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) dengan Menteri Pertanian Australia tentang pasokan daging sapi tanah air dinilai sebagai niat terselubung untuk membuka keran impor daging sapi.
Pasalnya, menurut Pengamat Pertanian Andreas Maryoto, jika Australia mengimpor daging pasti akan ditolak oleh Kementerian Pertanian yang tengah mengusahakan swasembada daging sapi.
Ia mengatakan, mestinya ketika Indonesia menjalin kerjasama dengan negara lain terkait daging sapi, pemerintah harus melihatnya sebagai strategi dalam mewujudkan swasembada bukan justru ketergantungan impor.
"Memang sih, kalau model-model lama dengan mereka menjual pasti akan dikritisi. Saya melihatnya, ini cara-cara mereka lebih bijak, lebih baik. Tapi apa pun mereka pasti tidak mau pasarnya berkurang. Dan langkah apa pun itu, bagaimana cara mereka memperluas pasar. Nah, ini kembang-kembang saja supaya terlihat lebih bagus," katanya kepada KBR.
Pada 8 Agustus lalu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) dengan Menteri Pertanian Australia, Barnaby Joyce di Queensland, Australia meneken kerjasama terkait pasokan daging sapi tanah air.
Dalam kerjasama itu terdapat dua poin yang menjadi sorotan. Pertama, pada sektor perdagangan dan investasi akan ada upaya pengamanan pangan berupa daging sapi di Indonesia. Artinya, keran impor daging sapi Australia ke Indonesia bakal kian deras. Kedua, sektor pendidikan akan ada bantuan dari Australia sebesar Rp 654 miliar untuk program pertukaran mahasiswa pertanian peternakan Indonesia.
Editor: Antonius Eko