Solar Dibatasi, MenESDM: Organda Jangan Mogok

KBR, Jakarta

NASIONAL

Selasa, 05 Agus 2014 12:38 WIB

Author

Sefiana Putri Tingginehe

Solar Dibatasi, MenESDM: Organda Jangan Mogok

organda, angkutan umum, solar

KBR, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik meminta Organisasi Angkutan Darat (Organda) tidak mogok beroperasi. Kebijakan pemerintah membatasi BBM bersubsidi menurutnya tidak akan mengganggu operasi angkutan umum karena pembatasan hanya dilakukan di beberapa daerah yang saja.

Jero Wacik mengatakan hanya 5 sampai 12 persen dari total 4570 SPBU di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan yang memberlakukan pembatasan. Sisanya sekitar 90 persen masih beroperasi normal.

“Kemarin kan ada berita Organda katanya mau mogok, nggak usah mogok lah. Supir-supir bis itu jangan beli solar malam hari di Jakarta Pusat, cari di tempat yang subsidi kan ada. Jadi masyarakat tidak usah resah,” ujar Wacik dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Selasa (5/8).

Pembatasan solar bersubsidi ini sudah mulai dilakukan di 26 SPBU Jakarta Pusat sejak 1 Agustus sedangkan untuk daerah-daerah lainnya baru diberlakukan Senin kemarin. Pihak Pertamina memberlakukan kebijakan ini di SPBU yang berada di dekat lokasi pertambangan, perkebunan, dan industri.

Terutama di daerah rawan penyalahgunaan BBM bersubsidi, serta kota besar di luar jalur logistik utama. Daerah-daerah ini ditentukan dengan pertimbangan tidak mengganggu operasi angkutan barang dan jasa.

Menurut Wacik kebijakan pembatasan BBM bersubsidi ini hanya akan berlaku sampai akhir tahun 2014 saja dan akan kembali normal pada 1 Januari 2015. 


Sementara di tempat yang sama, Kepala Badan Pengatur Hulu Minyak dan Gas, Andy Noorsaman Someng menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengeluarkan instruksi kepada Pertamina agar kuota solar bersubsidi diutamakan untuk nelayan kecil.

Hal ini dilakukan agar BBM bersubsidi jatuh ke tangan yang tepat dan para nelayan kecil tetap bisa menjalankan mata pencahariannya. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk menekan angka konsumsi solar bersubsidi agar kuotanya cukup hingga akhir tahun ini.

“Banyak nelayan-nelayan yang komplain ke BPH Migas bahwa kapal-kapal mereka tidak dapat dilayani karena sudah habis oleh kapal-kapal besar. Ini tujuannya agar Pertamina bisa menekan konsumsi BBM solar itu mencapai 20%,” ujar Andy.

Sementara Wacik juga menegaskan jika subsidi solar untuk nelayan kecil wajib diberikan. Untuk kapal besar pemerintah sudah menyiapkan stok solar non-subsidi. Sehingga tidak perlu khawatir kehabisan.

Pengelolaan kuota BBM bersubsidi ini merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mengurangi jatuhnya subsidi ke pihak yang tidak tepat. Jero mengatakan sekitar 77 persen subsidi BBM justru dinikmati oleh kalangan menengah ke atas.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Presiden Menghidupkan Jabatan Wakil Panglima TNI