covid-19

Siapa Layak Jadi Menteri Ekonomi Kreatif?

Kementerian perlu segera merumuskan visi misinya dahulu.

NASIONAL

Minggu, 03 Agus 2014 01:59 WIB

Siapa Layak Jadi Menteri Ekonomi Kreatif?

Kemenparekraf

KBR, Jakarta – Dalam beberapa kesempatan, Presiden terpilih Joko Widodo menyebut soal pentingnya industri kreatif bagi Indonesia. Jokowi bahkan menyebut dirinya sebagai bagian dari pelaku industri kreatif mengingat dia pernah berkecimpung di bisnis mebel. 


Sejumlah nama sudah beredar sebagai kandidat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf). Ada nama Nia Dinata, Yovie Widianto dan Najwa Shihab yang diusulkan dari kelompok relawan lewat Kabinet Rakyat, ada juga nama Garin Nugroho, Jeffry Geovanie, serta Mira Lesmana yang diajukan oleh Jokowi Center lewat Kabinet Alternatif Usulan Rakyat. 


Pakar industri kreatif Yudhi Soerjoatmodjo mengatakan, yang paling penting dilakukan oleh Kementerian saat ini adalah merumuskan visi misinya, sebelum menentukan nama siapa saja yang layak menjadi menteri. 


"Saya pengin tahu dulu, apa sih fungsi kementerian itu? Apa kementerian itu menggelar pameran? Menggelar festival musik? Menggelar festival film? Atau dia memikirkan  persoalan-persoalan berkaitan dengan peraturan, kebijakan, sinergi antar kementerian, lobi politik?"


Yudhi mengingatkan kalau definisi ‘industri kreatif’ masih rancu. Ini terlihat dari berganti-gantinya Kementerian yang menjadi ‘induk’ bagi industri kreatif. Semula yang lebih banyak mengurus adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itu, kata Yudhi, fokus pengembangan modal kreatif tidak terlalu memperhatikan soal pengembangan lapangan kerja, tapi lebih banyak di soal budaya saja. 


Sejak 2011, industri kreatif berada di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Menteri Mari Elka Pangestu. 


Tapi lagi-lagi, Yudhi menekankan bahwa Kementerian belum memperjelas apa yang jadi fokus Kementerian. “Selama ini kan kementerian itu seolah-olah mereka jadi bersaing kan dengan organisasi kreatif. Mereka sendiri bikin festival jazz, mereka sendiri bikin pameran foto, mereka sendiri bikin pagelaran tari,” kata Yudhi. 


“Padahal bukan itu tugas kementerian. Kementerian itu bukan jadi event organizer, bukan sebagai kurator, dia sebagai fasilitator.” 


Ketika diundang di diskusi FGD (Focused Group Discussion) Kemenparekraf pada Juli 2014 lalu, Yudhi baru menyadari bahwa Kemenparekraf belum memiliki strategi yang jelas. Acara ini diadakan oleh Menteri Mari Elka Pangestu. 


Agenda pertemuan sendiri adalah meminta masukan dari para pekerja industri kreatif untuk merumuskan strategi dalam kabinet berikutnya. Saat itu Yudhi mengaku heran,”Kok baru dirancang saat ini, ketika Kemenparekraf sudah akan berakhir?”


Yudhi menambahkan, peran utama Kemenparekraf adalah menyusun kebijakan. Karenanya, sosok yang menjadi Menteri nantinya mesti bisa melihat keterpaduan antara Kemenparekraf dengan kementerian lainnya. Dengan begitu diharapkan para pekerja industri kreatif  tidak dipersulit dengan aturan yang ada. 


"Misalnya, terkait dengan salah satu isu yang muncul di seni rupa. Ketika seorang seniman berpameran di luar negeri, lalu pas karyanya dikembalikan ke Indonesia malah kena bea cukai. Ini kan semestinya ada kerjasama terpadu antara Kemenparekraf dengan Kementerian Keuangan," Yudhi lanjut memberi contoh.


Indonesia bisa meniru bagaimana cara Inggris mengelola industri kreatifnya. Yudhi yang pernah menjabat sebagai Manajer Divisi Seni dan Ekonomi Kreatif di British Countil mengatakan, industri kreatif ada di bawah pengelolaan Media, Budaya dan Olahraga. Pengaturan industri kreatif tidak digabungkan dengan urusan pendidikan dan kebudayaan, juga tidak dengan pariwisata. Ini semakin memperlihatkan betapa pentingnya saling silang antara ranah ekonomi kreatif dengan bidang lainnya, jelas Yudhi. 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Niatan Berantas Intoleransi di Lingkungan Pendidikan

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11