covid-19

Ungkap Kartel Sapi, KPPU Periksa 30 Importir

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) telah memeriksa 30 pengusaha importir daging sapi. Pemeriksaan itu untuk mengungkap dugaan kartelisasi harga daging sapi di tanah air.

NASIONAL

Kamis, 08 Agus 2013 21:28 WIB

Ungkap Kartel Sapi, KPPU Periksa 30 Importir

Kartel Sapi, KPPU, importir

KBR68H, Jakarta - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)  telah memeriksa 30 pengusaha importir daging sapi. Pemeriksaan itu untuk mengungkap dugaan kartelisasi harga daging sapi di tanah air.

Namun, menurut Juru bicara KPPU, Ahmad Junaidi, penyelidikan tersebut belum rampung. Sebab, tidak mudah untuk mengungkap kartel daging sapi yang memiliki jalur distribusi panjang dan melibatkan banyak pihak. Meski begitu, KPPU enggan menyebut perusahaan mana saja yang telah diperiksa.

“Hampir 30 perusahaan sudah kita panggil dan kita mintai keterangan. Dan, posisi KPPU sebagai penyelidik tidak sekedar memanggil, tetapi juga melakukan penyelidikan di lapangan dan kami juga berkoordinasi dengan beberapa kantor perwakilan daerah yang kami miliki. Termasuk juga tim-tim kami terjunkan ke daerah untuk mempertajam pembuktian itu. Kartel khas, oleh karena perilaku ini sebagaimana kita ketahui bersama, itu adalah perilaku yang tersembunyi. Dan fenomena paling awal dari adanya kartel itu adalah harga yang tinggi,“ jelas Ahmad Junaidi kepada KBR68H, Kamis (08/8).

Diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Radjasa meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) segera menyelidiki tingginya harga daging sapi di Jakarta. Dia menduga ada permainan kartel yang mengakibatkan harga daging tetap tinggi di pasaran. Padahal, pemerintah telah menyebar ribuan ton daging sapi impor untuk menekan harga.

Saat ini, harga daging di beberapa daerah, semisal di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) masih bertengger di Rp 100 ribu per kilogram.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Siapkan Pembelajaran Tatap Muka Digelar?

Kabar Baru Jam 8

Wisata Sehat di Tengah Pandemi

Desa Wisata Tak Kehilangan Pesona