Bagikan:

Pejabat Negara Tahan Dolar untuk Kebutuhan Dana Politik

KBR68H, Jakarta - Pengamat Pasar Uang, Ferial Anwar pesimistis para pejabat negara mau menjual dolarnya, sebagai bentuk kampanye untuk meredam laju pelemahan rupiah.

NASIONAL

Rabu, 28 Agus 2013 08:18 WIB

Pejabat Negara Tahan Dolar untuk Kebutuhan Dana Politik

dolar, pejabat negara, rupiah, gita wirjawan

KBR68H, Jakarta - Pengamat Pasar Uang, Ferial Anwar pesimistis para pejabat negara mau menjual dolarnya, sebagai bentuk kampanye untuk meredam laju pelemahan rupiah. Menurutnya, justru saat ini para pejabat menahan dolar untuk kebutuhan dana politik pada Pemilu 2014 mendatang.

"Kita harus ingat ini tahun politik ya, tahun depan kita ada pemilu mereka butuh dana besar itu, untuk suap menyuap dan sebagainya, ya dampaknya di kita, saya kok pesimis ya, kalau ada keinginan untuk menguatkan rupiah melihat kondisi seperti itu," kata Ferial kepada KBR68H

Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan mendorong para pejabat negara melepas kepemilikan dolarnya sebagai salah satu langkah menguatkan nilai rupiah. Namun Gita  enggan membeberkan kepada wartawan kapan akan melepas dolarnya. Dalam Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) Gita  memiliki dolar lebih dari 626 ribu dolar atau setara Rp 6,8  miliar lebih.

Dalam tulisannya di salah satu blog, ekonom Faisal Basri menulis, jumlah harta SBY dalam dolar Amerika tahun 2009, tercatat sebesar US$ 269.730 atau setara Rp 2,96 miliar  dengan asumsi 1 US$= Rp 11.000. Data itu, dikutip Faisal dari sumber Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) yang disampaikan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pejabat lain yang punya tabungan dolar dalam jumlah besar antara lain Priyo Budisantoso, Wakil Ketua DPR yang memiliki kekayaan dalam valas sebesar US$ 195.960 atau setara dengan Rp 2,1 miliar.

Setelah itu ada Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan yang memiliki kekayaan dalam bentuk dolar senilai US$ 626.677 atau setara Rp 6,89 miliar. Disusul Chatib Basri, Menteri Keuangan dengan jumlah US$ 356,506 atau setara Rp 3,92 miliar.

Editor: Doddy Rosadi

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Buntu Penolakan Pemekaran Wilayah Papua