Importir: Daging Sapi Beku Halal

KBR68H, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (ASPIDI) menilai isu negatif soal daging impor beku di Indonesia sengaja disebarkan. Sebelumnya, daging yang diimpor Bulog dinilai tidak halal dan mengandung residu horman yang melebihi ambang

NASIONAL

Selasa, 06 Agus 2013 11:44 WIB

Author

Sindu Dharmawan

Importir: Daging Sapi Beku Halal

importir, daging sapi, halal

KBR68H, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (ASPIDI) menilai isu negatif soal daging impor beku di Indonesia sengaja disebarkan. Sebelumnya, daging yang diimpor Bulog dinilai tidak halal dan mengandung residu horman yang melebihi ambang batas. Ketua ASPIDI, Thomas Sembiring meyakinkan, isu tersebut tidak benar dan sangat merugikan masyarakat. Namun, dia enggan membeberkan siapa yang menyebarkan isu tersebut.

"Fakta dari 2008-2011 daging beku itu habis saja. Nah, inilah, saya ngga mau menuduh, ya. Tapi, selalu ada saja yang apa, kemudian isu hormon lagi coba, ini kan ulah siapa itu? Ini macam-macam lah, kalau sudah ada masalah satu pihak yang berkepentingan mengeluarkan isu-isu meresahkan masyarakat. (Siapa Pak, yang kira-kira mengeluarkan isu-isu semacam ini ?) Ya, hitung saja siapa yang diuntungkan?," terang Thomas Sembiring dalam program berita Sarapan Pagi KBR68H, Selasa (06/8).

Sebelumnya, Pemerintah melalui Bulog mengimpor 3000 ton daging sapi dari Australia. Impor dilakukan guna menekan harga daging di pasaran yang bisa mencapai Rp 100 ribu lebih per kilogram. Namun, daging impor tersebut mendapat penolakan di beberapa daerah, semisal di  Medan Sumatera Utara.

Para pembeli beralasan, kualitas daging impor Bulog kurang bagus dibandingkan daging sapi lokal. Selain kualitas, beberapa pihak juga mempertanyakan kehalalan daging dan dugaan adanya hormon pertumbuhan yang melebihi ambang batas dalam daging impor tersebut.

Sementara itu, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag, Sri Agustina memastikan, daging impor yang saat ini dijual oleh pemerintah telah melalui proses karantina sebelum didistribusikan ke masyarakat.

Editor: Suryawijayanti 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17