Bagikan:

IDAI Serukan Cegah Kekerasan Seksual pada Anak Sejak Dini

Anak yang mengalami berbagai macam peristiwa traumatik termasuk kekerasan fisik, emosional atau seksual, dampaknya tidak akan berhenti pada saat itu.

NASIONAL

Rabu, 13 Jul 2022 14:17 WIB

Author

Fadli Gaper

kekerasan seksual

Dampak Kekerasan Seksual pada Anak. (Sumber: Makalah webinar Satgas Perlindungan Anak IDAI, 13 Juli 2022)

KBR, Jakarta - Kalangan Dokter Anak mengingatkan pentingnya pencegahan kekerasan seksual yang menimpa anak-anak. 

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim B. Yanuarso mengatakan, kasus kekerasan seksual harus dicegah sejak dini. 

Semua pihak harus ambil peduli karena anak-anak saat ini adalah generasi penerus masa depan bangsa.

"Namun yang paling utama menurut saya adalah pencegahan, upaya preventif, bahkan pencegahan itu harusnya sejak sangat-sangat awal jangan sampai ada kesempatan kekerasan seksual, karena biasanya kekerasan seksual ini pada orang-orang yang dikenal dan orang-orang yang dekat dengan korban," ujar Ketua Umum PP IDAI Piprim B. Yanuarso dalam Seminar Awam IDAI "Cegah dan Kenali Kekerasan Seksual pada Anak, Apa yang Perlu Kita Ketahui?" (13/7/2022).

Sementara itu, Ketua Satgas Perlindungan Anak IDAI, Eva Devita Harmoniati mengatakan, sejak 8 tahun lalu, Komnas Perempuan sudah menyatakan Indonesia sebagai "Darurat Kekerasan Seksual".

Eva juga mengutip data Kementerian PPPA yang menyebutkan, pada 2020 lalu terdapat 3 ribuan kasus kekerasan pada anak, yang terdiri dari 850 kekerasan fisik, 760 kekerasan psikis, dan 1.800-an kekerasan seksual. 

Kasus kekerasan pada anak di masa pandemi meningkat, dengan pelaku adalah ibu, ayah, kakak dan juga adik korban.

"Dari Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak atau SIMFONI milik Kementerian PPPA, dari 2019 sampai 2021 menunjukkan peningkatan yang cukup tajam angka kekerasan seksual pada anak.Bahkan di 2021 angkanya mencapai 8 ribuan kasus. Pada 2022, di bulan Januari saja, angka kekerasan pada anak sudah mencapai hampir 800 kasus," tutur Eva yang juga Dokter Spesialis Anak di RSIA Harapan Kita dan RSIA YPK Mandiri, Jakarta.

Eva melanjutkan, anak yang mengalami berbagai macam peristiwa traumatik termasuk kekerasan fisik, emosional atau seksual, dampaknya tidak akan berhenti pada saat itu.

"Tapi dampaknya bersifat jangka panjang bahkan sampai anak itu usia dewasa. Anak yang mengalami kekerasan di masa kecilnya akan mengalami gangguan dalam perkembangan, kognitif, sosial, emosional," ujar Eva.

Bila mendapati kasus kekerasan seksual pada anak, Eva menuturkan sejumlah langkah pelaporan yang harus segera dilakukan. Antara lain ke Kementerian PPPA melalui call center SAPA 129, Whatsapp pengaduan ke 08111.129.129; juga ke Kepolisian RI Subdit Kekerasan Perempuan dan Anak 110; Kemensos melalui Pelayanan Sosial Anak 1500.771; dan UPTD PPA di daerah masing-masing.

Baca juga:

Sedangkan bila kekerasan pada anak berlangsung secara online, maka Eva menuturkan sejumlah langkah yang harus dilakukan.

Pertama, ciptakan lingkungan yang ramah anak.

Kedua, laporkan kekerasan secara daring ke unit cyber crime Polri, laporkan juga ke Direktorat Siber Bareskrim Polri melalui situs patrolisiber[dot]id, laporkan ke aduan konten melalui situs Kemenkominfo, juga ke Whatsapp Kemenkominfo di nomor 0811.922.4545 atau mengirim via email ke [email protected], maupun laporan ke KPAI.

Ketiga, tangani dampak psikologis dan fisik pada anak.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Laporan Temuan Ombudsman soal Penanganan Bencana

Most Popular / Trending