Bagikan:

Bertemu Presiden Korsel, Jokowi: Perkokoh Kerja Sama Ekonomi

"Kunjungan saya kali ini akan saya gunakan untuk memperkokoh kerja sama terutama di bidang ekonomi,”

NASIONAL

Jumat, 29 Jul 2022 08:05 WIB

Kerjasama bilateral

Kerjasama bilateral, Presiden Jokowi dan Presiden Yoon Seok Yeol di Seoul, Kamis (29/7/22). (Setneg)

KBR, Jakarta-  Presiden Joko Widodo dan Presiden Korea Selatan, Yoon Seok Yeol berkomitmen memperkuat kerja sama terutama di bidang ekonomi. Saat menyampaikan pengantarnya, Presiden Jokowi menyampaikan selamat atas terpilihnya Presiden Yoon sebagai Presiden Korea Selatan.

Presiden Jokowi yakin di bawah kepemimpinan Presiden Yoon, kerja sama bilateral Indonesia dan Korea Selatan akan semakin kuat. 

“Hubungan Indonesia-Republik Korea selama ini sudah sangat kokoh berdasarkan Kemitraan Strategis Khusus, namun ruang untuk terus meningkatkan kerja sama masih sangat lebar, kunjungan saya kali ini akan saya gunakan untuk memperkokoh kerja sama terutama di bidang ekonomi,” kata Presiden Jokowi di Seoul, Kamis (28/7).

Dalam sambutannya saat pertemuan bilateral, Presiden Yoon mengatakan kunjungan Presiden Jokowi menunjukkan pentingnya hubungan Korea Selatan dengan Indonesia sejak hubungan kedua negara tahun 1973.

"Kunjungan Bapak Presiden menunjukkan pentingnya hubungan Korea dengan Indonesia. Sejak hubungan kedua negara pada tahun 1973 atau 50 tahun terakhir ini banyak kemajuan ekonomi, perdagangan, budaya, people to people contact, diplomasi dan pertahanan," ucap Presiden Yoon.

Presiden Yoon menambahkan, Indonesia merupakan satu-satunya di Asia Tenggara yang memiliki kemitraan khusus dengan Korea Selatan. Selain itu, Presiden Yoon juga mengapresiasi kepemimpinan Indonesia dalam G20.

Baca juga:

Perdagangan

Sementara itu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat memberikan keterangan persnya usai pertemuan Jokowi dengan para CEO perusahaan dan Presiden Korea Selatan menyebut, dari sisi perdagangan kedua negara, ada peningkatan yang sangat signifikan. Kata dia, pada   Januari sampai Mei tahun 2022, Indonesia sudah memperoleh surplus lebih dari 500 juta US Dollar setelah sebelumnya mengalami defisit.

"Kemudian kalau kita lihat perdagangan 2021 angkanya sudah melebihi 18 miliar. Maka angka perdagangan sekali lagi mengalami peningkatan yang sangat tajam dibanding misalnya tahun sebelumnya 2020 yaitu di angka 13 miliar. Indonesia masih terus mendorong agar hambatan tarif dan non tarif terutama untuk produk pertanian Indonesia dapat dihilangkan," kata dia saat konferensi pers, Kamis (28/7/22).

Sementara itu di bidang investasi Korea Selatan saat ini menduduki posisi keenam. Korsel kata dia juga sudah berkomitmen untuk menambah investasi baru ke Indonesia.

Kata dia, pada saat bertemu dengan para CEO Korsel, terlihat bahwa minat untuk melakukan perluasan dan investasi baru di Indonesia cukup besar. Sebelumnya, Jokowi juga mendorong implementasi konkret dari Indonesia-Korea Economic Partnership Agreement untuk mendorong pemenuhan berbagai target kerja sama kedua negara.

Buruh Migran

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan Presiden Jokowi dan Presiden Korea Selatan, Yoon Seok Yeol juga membahas soal ketenagakerjaan dalam pertemuan mereka di Seoul. Kata Retno, saat ini terdapat lebih dari 28.000 pekerja migran Indonesia di Korea Selatan. Sebagian besar pekerja pada sektor manufaktur dan perikanan.

"Kita melihat adanya peluang untuk semi dan skilled labour. Dan Indonesia mengusulkan kiranya Mou mengenai penempatan tenaga kerja yang dimiliki dua negara sejak tahun 2012 sudah waktunya ditinjau kembali,"

Usulan tersebut antara lain dengan menambahkan sektor atau bidang pekerjaan yang dapat diisi pada perjanjian kedua negara. Sementara itu kedua pemimpin juga melakukan diskusi mengenai beberapa isu kawasan internasional. Keduanya juga membahas soal peluang kerjasama perdagangan hingga investasi. Presiden Jokowi juga menyampaikan secara langsung undangan kepada Presiden Yoon untuk menghadiri KTT G20 di Bali.

 

Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Laporan Temuan Ombudsman soal Penanganan Bencana

Most Popular / Trending