Bagikan:

Apindo Mulai Khawatirkan Pelemahan Rupiah

Sebagian sektor memperoleh bahan baku melalui impor. Pelemahan rupiah akan memberatkan para pengusaha, dalam transaksi pembelian bahan baku tersebut.

NASIONAL

Senin, 25 Jul 2022 22:58 WIB

pelemahan rupiah

Petugas menghitung uang dolar di BNI KC Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (21/7/2022). (Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga)

KBR, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mulai mengkhawatirkan pelemahan rupiah, sebab berdampak pada keberlangsungan usaha beberapa sektor.

Ketua Komite Perpajakan Apindo Siddhi Widyaprathama mengatakan efek depresiasi rupiah akan semakin terasa jika berlangsung lama.

"Di satu sisi kita masih bersyukur bahwa pelemahan rupiah itu masih termanage ya. Artinya dibandingkan dengan mata uang negara tetangga, pelemahannya masih lebih terukur. Namun demikian tentu pengusaha memiliki kekhawatiran. Biar bagaimanapun apabila pelemahan terus terjadi, tentu akan mempunyai dampak. Terlebih untuk misalkan manufaktur atau produksi yang memiliki ketergantungan bahan baku impor untuk produksinya tentu ini akan somehow berpengaruh," kata Siddhi dalam acara Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk "Pemulihan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global", Senin (26/7/2022).

Apindo Siddhi Widyaprathama menyebut sebagian sektor memperoleh bahan baku secara impor dari luar negeri. Pelemahan rupiah akan memberatkan para pengusaha, dalam transaksi pembelian bahan baku tersebut.

Meski begitu, Apindo mengapresiasi Bank Indonesia yang telah mengambil langkah bijak. Yaitu dengan tetap mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7 DRR) di level 3,5 persen.

"Ini adalah hal yang cukup baik. Tinggal bagaimana ke depannya, pemerintah, semua pelaku dan stakeholder bisa bersama-sama menjaga situasi ini tetap stabil. Sebetulnya yang paling diinginkan dunia usaha itu stabilitas, sehingga tidak terjadi volatilitas yang tinggi dan semua bisa diprediksi menjadi lebih baik," tuturnya.

Baca juga:

Langkah BI

Di lain pihak, Bank Indonesia menyebut adanya risiko stagflasi atau keadaan ekonomi menurun, sementara inflasi justru tinggi dalam perekonomian global.

Kepala Grup Departemen Ekonomi & Kebijakan Moneter BI, Wira Kusuma menyebut hal itu bisa dipicu oleh pandemi yang belum usai, dampak perang Rusia-Ukraina, tren negara-negara mengamankan pasokan untuk kebutuhan dalam negeri, hingga gangguan rantai pasok global.

Wira Kusuma juga mengakui nilai tukar rupiah mengalami tekanan (terdepresiasi) dan melemah, seperti mata uang lainnya.

Namun ia memastikan pelemahan rupiah lebih rendah dibandingkan mata uang negara-negara berkembang lainnya.

Wira Kusuma juga menjelaskan alasan pemerintah masih mempertahankan suku bunga acuan 3,5 persen dan mempersiapkan kebijakan lainnya untuk menjaga stabilitas rupiah dan ekonomi.

"Ini sejalan dengan prakiraan inflasi inti yang masih terjaga di tengah risiko dampak perlambatan ekonomi global. Selain itu kita akan memperkuat operasi moneter, memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, melanjutkan kebijakan transparansi suku bunga. Kemudian di bidang sistem pembayaran kita memperluas QRIS, memastikan operasionalisasi standar nasional open API, dan memperkuat kebijakan internasional. Tentu saja kita akan tetap bersinergi dengan pemerintah dan otoritas lain untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi dan menjaga stabilitas makro ekonomi agar tetap terjaga," kata Wira Kusuma pada diskusi daring (25/7/22).

Alasan lain Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5 persen adalah untuk mempertahankan tren pemulihan ekonomi nasional.

Menurut Wira Kusuma, kenaikan suku bunga acuan dikhawatirkan bakal menghambat pemulihan ekonomi di tengah ketidakpastian global akibat konflik Rusia dan Ukraina serta pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai.

Wira juga menambahkan bahwa arah bauran kebijakan BI pada 2022 yakni menjaga stabilitas dan mendorong pemulihan ekonomi nasional. Untuk itu, kata dia, kebijakan moneter BI bakal fokus menjaga stabilitas. Sedangkan empat instrumen lainnya yakni makroprudensial, sistem pembayaran pendalaman pasar keuangan dan ekonomi keuangan hijau dan inklusif bakal mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan perbaikan ekonomi domestik diperkirakan terus berlanjut, meski dampak perlambatan ekonomi global perlu tetap diwaspadai.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Upaya Pemerintah Mengatasi KLB Polio

Most Popular / Trending