covid-19

Satgas COVID-19: Masyarakat Agar Isoman di Lokasi Terpusat dan Terpantau

"Agar masyarakat tidak ragu-ragu untuk mau diajak isolasi di isolasi terpusat, baik itu di kabupaten maupun di tingkat provinsi."

BERITA | NASIONAL

Rabu, 28 Jul 2021 14:08 WIB

Author

Dwi Reinjani

Satgas COVID-19: Masyarakat Agar Isoman di Lokasi Terpusat dan Terpantau

Petugas kesehatan memasuki area isolasi mandiri di Banjar Terunasari, Desa Dauh Puri Kaja, Denpasar, Bali (1/7/2021). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Masyarakat diingatkan untuk menjalani isolasi di pusat-pusat karantina yang disediakan pemerintah. Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ganip Warsito mengatakan, hal itu sebagai upaya pemerintah mempercepat pemulihan para pasien Covid-19. Dengan melakukan isolasi di pusat-pusat karantina yang tersedia, kondisi pasien bisa terpantau dan tidak semakin parah.

"Kesempatan ini juga saya ingin mengimbau masyarakat, agar masyarakat tidak ragu-ragu untuk mau diajak isolasi di isolasi terpusat, baik itu di kabupaten maupun di tingkat provinsi. Karena tempat-tempat isolasi terpusat yang disiapkan oleh pemerintah daerah maupun pusat ini, sudah disiapkan tenaga medisnya, lalu disiapkan obat-obatannya, kemudian disiapkan kegiatan-kegiatan treatment yang bisa meningkatkan pemulihan," ujarnya.

Ganip juga meminta masyarakat untuk aktif melakukan tes antigen apabila mengalami gejala Covid-19. Ia juga mengingatkan Satgas Penanganan Covid-19 di masing-masing daerah agar rutin memantau kesehatan masyarakat.

Selain itu, Ganip juga meminta masyarakat semakin aktif melakukan pemeriksaan kesehatan termasuk melakukan testing apabila mengalami gejala-gejala Covid-19. Setelah testing antigen yang bisa dilakukan di Puskesmas atau pos-pos PPKM, selanjutnya Satgas Covid-19 di daerah masing-masing akan memantau kesehatan masyarakat selama lima hari, untuk menentukan apakah PCR test dibutuhkan atau tidak.

Keaktifan masyarakat dalam pelaksanaan testing dan protokol kesehatan, menurut Ganip, bisa membantu pemerintah menekan angka kasus Covid-19, yang saat ini belum menunjukan penurunan signifikan. Kendati sejak 18 Juli lalu, jumlah kasus aktif sudah menurun.

"Sudah efektif. Maka kita evaluasi terus, kita sudah punya data, mulai dari lonjakan 18 Mei sampai dengan saat ini. Memang 18 Mei itu terjadi lonjakan yang eksponensial, terus puncaknya di 18 Juli kemarin sekarang sudah mulai menurun," katanya.

Hal itu berbeda dengan prediksi Epidemiolog asal Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman. Ia mengatakan, puncak gelombang Covid-19 baru akan terjadi pada awal Agustus mendatang.

"Kita akan mencapai puncak dari kasus infeksi mungkin tiga empat hari, kemudian di awal Agustus beban terbesar di fasilitas kesehatan akan dialami khusus di Jawa. Kita bicara kalau untuk saat ini puncaknya kondisinya Episentrumnya di Jawa, Bali, Madura. Dan kemudian baru dua minggu kemudian terlihat angka tertinggi dari kematian yang bisa lebih dari dua ribuan nah ini yang akan kita alami," ujarnya.

Editor: Fadli Gaper

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Layanan Identitas Kependudukan bagi Kelompok Transpuan

Kabar Baru Jam 8

Seruan untuk Lindungi Nakes di Daerah Rawan

Kabar Baru Jam 10