covid-19

RS Penuh, Banyak Pasien COVID-19 Meninggal di Rumah

“Kami sempat kewalahan mengingat banyaknya permintaan warga untuk membawa kasus Covid-19 yang sedang isoman ke rumah sakit. Di sisi lain, kami juga kewalahan dengan permintaan pemulasaran jenazah."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 01 Jul 2021 23:44 WIB

Author

Ken Fitriani

RS Penuh, Banyak Pasien COVID-19 Meninggal di Rumah

Petugas memakamkan jenazah pasien COVID-19 di Badran, Yogyakarta, Selasa (22/6/2021). (Foto: ANTARA/Hendra Nurdiyansyah)

KBR, Yogyakarta – Beberapa pekan terakhir kasus Covid-19 yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri di rumah di Provinsi DI Yogyakarta meningkat.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, kurang dari 24 jam pada 29 dan 30 Juni kemarin, ada 100 kematian yang dilaporkan di seluruh kabupaten/kota se DIY.

Komandan Tanggap Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY, Wahyu Pristiawan Buntoro mengatakan, banyaknya kasus warga meninggal saat menjalani isolasi mandiri dikarenakan terlambat dirujuk ke rumas sakit Covid-19.

Hal ini disebabkan banyaknya rumah sakit yang penuh akibat lonjakan kasus Covid-19 di DIY.

"Secara prioritas yang kita khawatirkan adalah ledakan meninggal isoman di rumah. Karena ini menjadi dua dampak, dampak sosialnya semakin berat. Kenapa? Karena kalau tidak ada sebuah kebijakan yang radikal terkait penanganan yang meninggal di rumah ini, kasihan teman-teman posko dukungan di kabupaten/kota," katanya dalam wawancara daring, Kamis (1/7/2021).

Wahyu Pristiawan menjelaskan, meningkatnya kasus yang meninggal saat isolasi mandiri juga dikarenakan tidak ada penunjang alat kesehatan seperti oksigen.

Sementara, sebagian besar kasus yang meninggal tersebut sudah dengan kondisi memburuk dan seharusnya mendapatkan perawatan intensif minimal adanya bantuan oksigen.

"Ada stagnasi di rumah sakit dan krisis oksigen. Buntu di puskesmas karena tidak mampu untuk merujuk. Sehingga yang seharusnya dirujuk ke rumah sakit justru diminta untuk isoman. Kapasitas rumah sakit melebihi batas dan diperparah dengan fasilitas yang tidak cukup. Akhirnya banyak yang meninggal," paparnya.

Lonjakan kasus yang terjadi di Juni di DIY sudah tidak terkendali.

Wahyu Pristiawan menceritakan, ada warga yang meminta TRC BPBD DIY untuk mengantarkan anggota keluarganya yang tengah menjalani isoman ke rumah sakit karena kondisinya yang memburuk.

Terhadap permintaan itu, BPBD DIY sudah mencari setidaknya tujuh rumah sakit, namun tidak ada bisa menampung. Sehingga, pasien tersebut hanya diletakkan di selasar RSUP Dr. Sardjito sambal menunggu antrean agar mendapatkan perawatan.

“Kami juga sempat kewalahan mengingat banyaknya permintaan warga untuk membawa kasus Covid-19 yang sedang isoman ke rumah sakit. Di sisi lain, kami juga kewalahan dengan permintaan pemulasaran jenazah Covid-19, “ paparnya.

Wahyu Pristiawan menambahkan, relawan juga mempunyai tanggung jawab terhadap kondisi pasien yang mereka bawa. Pasalnya, Ketika membawa pasien maka harus memperjuangkan semaksimal mungkin dan mempertanggung jawabkan sampai rumah sakit dalam kondisi hidup.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7