Bagikan:

Pandemi Memburuk, Kebutuhan Oksigen Medis Diperkirakan 1.700 Ton Perhari

Kebutuhan oksigen nasional mestinya bisa ditekan bila ruang perawatan intensif atau (ICU) di rumah sakit bisa diminimalkan. Dengan menangani pasien COVID-19 dilakukan sedini mungkin saat gejala awal.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 08 Jul 2021 23:53 WIB

Pandemi Memburuk, Kebutuhan Oksigen Medis Diperkirakan 1.700 Ton Perhari

Pekerja mendata tabung oksigen di stasiun pengisian oksigen Samator di Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (8/7/2021). (Foto: ANTARA/Hendra Nurdiansyah)

KBR, Jakarta - Kebutuhan oksigen medis di Indonesia diperkirakan terus meningkat hingga mencapai 1.700 ton oksigen perhari pada 20 Juli mendatang. Perkiraan itu jika kondisi terus terjadi kenaikan kasus positif COVID-19. 

Juru bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika Dedy Permadi mengatakan dibutuhkan 4.700 konsentrator oksigen untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

"Koordinator PPKM Darurat Menko Marves sudah meminta Kementerian Perindustrian segera merealisasikan ketersediaan oksigen dan menemukan solusi terbaik bagi permasalahan produksi oksigen, isotank dan tabung oksigen. Sehingga kita harapkan semua berjalan maksimal pada Minggu 11 Juli 2021," kata Dedy saat konpers daring, Kamis (8/7/2021)

Dedy menambahkan, Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Luhut Binsar Pandjaitan, juga telah meminta Kemenperin menyiapkan tiga kapal untuk memastikan ketersediaan liquid oksigen bagi yang dapat dipenuhi melalui pasokan industri lokal maupun cara impor.

Dedy mengatakan pemerintah juga mendatangkan 7.100 unit konsentrat dan menyiapkan 7 unit generator oksigen. Ia menyebut supply oksigen sesuai dengan harga yang ditentukan. Dedy menegaskan pemerintah mengancam hukuman berat jika ada korupsi atau pelanggaran hukum terkait oksigen medis.

Bisa ditekan

Kebutuhan oksigen nasional mestinya bisa ditekan bila ruang perawatan intensif atau (ICU) di rumah sakit bisa diminimalkan.

Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) Navy Lolong Wulung mengatakan untuk meminimalkan penggunaan ruang ICU, maka penanganan terhadap pasien COVID-19 harus dilakukan sedini mungkin pada saat seseorang memiliki gejala awal.

Navy mengatakan pengetesan, penelusuran kontak erat, dan pengobatan atau testing, tracing, dan treatment (3T) merupakan kunci untuk mengidentifikasi terpapar atau tidaknya seseorang akibat COVID-19.

"Jadi salah satu solusi yang paling penting adalah 3T itu penting, karena semakin cepat kita menangkap kasus pasien di awal, belum ada gejala tapi kita sudah melakukan terapi-terapi di awal, harusnya memang penyakit COVID-19 ini membutuhkan ICU itu hanya 1 persen saja," ujar Navy dalam Webinar "Efisiensi Pemakaian Oksigen Pada Pasien COVID-19 di Tengah Keterbatasan Suplai Oksigen di kanal Youtube PKMK FK-KMK UGM CH 2, Kamis (8/7/2021).

Navy mengatakan, pemerintah semestinya bisa mengantisipasi kejadian keterbatasan oksigen, dengan menggencarkan 3T di lapangan.

Menurutnya, negara tetangga di Asia Tenggara sudah cukup berhasil menekan pemakaian oksigen di dalam negeri, dengan masifnya 3T bagi masyarakat yang mengalami gejala dini COVID-19.

"Maka di negara tetangga kita yang bisa mengontrol jumlah pasien positifnya, karena 3T yang baik. Kebutuhan oksigen bisa kurang dari 1 persen, sehingga pemakaian oksigen rumah sakit bisa sedikit," tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Kelompok Kerja Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr. Erlina Burhan mengungkapkan kondisi rumah sakit saat ini mulai krodit, dokter mulai dilema memberi oksigen ke pasien.

Erlina menceritakan bahwa saat ini di beberapa rumah sakit mulai memilah-milih pasien mana yang harus mendapatkan oksigen sebab jumlah tabung tidak seimbang dengan antrean pasien yang akan masuk.

Sementara itu, rencana impor oksigen pun telah dicanangkan pemerintah, bila kapasitas produksi di dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan permintaan oksigen domestik.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Komunitas Biboki Lestarikan Tenun Ikat Tradisional

Living Law, Apa Dampaknya Jika Masuk dalam RKUHP?

Kabar Baru Jam 10

Most Popular / Trending