covid-19

Luhut: Lonjakan Covid-19 di Jawa Akibat Varian Delta

"Jadi harian kemarin itu 54 ribu sekian. Dan itu saya kira menjadi angka yang tertinggi dan bisa saja ini masih naik. Tapi kita berharap sih (tidak),"

BERITA | NASIONAL

Kamis, 15 Jul 2021 11:49 WIB

Luhut: Lonjakan Covid-19 di Jawa Akibat  Varian Delta

Sejumlah petugas memakamkan jenazah pasien C0vid-19 di Badran, Yogyakarta, Selasa (22/6/2021). Foto: ANTARA

KBR, Jakarta-  Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, lonjakan kasus Covid-19 di Jawa didominasi varian Delta. Menurutnya, varian ini lebih dahsyat tingkat penularannya dibanding varian lain. Selain itu, juga bisa menurunkan efikasi dari vaksin.

"Kalau kita lihat memang PSBB 1 dan PSBB 2, PPKM Kabupaten/Kota, PPKM Mikro, semua relatif sebenarnya naik tapi masih terkendali. Nah begitu kita masuk dengan varian Delta, peningkatan kasus varian Delta ini dominasi oleh varian Delta," kata Luhut dalam keterangan persnya, Kamis (15/07).

Koordinator PPKM Darurat Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, sudah terjadi kenaikan kasus sekitar 44 persen selama PPKM Darurat. Dia memperkirakan peningkatan kasus masih akan terjadi. Sebab, masa inkubasi varian Delta ini berkisar 14-21 hari.

"Jadi harian kemarin itu 54 ribu sekian. Dan itu saya kira menjadi angka yang tertinggi dan bisa saja ini masih naik. Tapi kita berharap sih (tidak)," ujarnya.

Dia menyebut, lonjakan akibat varian Delta ini juga dialami oleh negara lain seperti Amerika, Belanda, Malaysia, hingga Rusia. Dia mengklaim pemerintah sudah bersiap menghadapi lonjakan kasus dengan skenario terburuk.

Politisasi Pandemi

Koordinator PPKM Darurat Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan juga meminta semua pihak tidak mempolitisasi masalah pandemi di Indonesia dan fokus pada penanganan bersama.

"Nah ini saya mohon supaya kita paham. Varian Delta ini varian yang tidak mudah dikendalikan. Jadi saya mohon kita tidak usah berpolemik membuat berita-berita yang kontradiksi atau statement saya dipotong-potong," kata dia.

"Kalau boleh saya titip ke teman-teman media. Kita ini menyelamatkan nyawa manusia. Jadi makin banyak kita bikin berita-berita tidak benar, makin stres orang (jadi) makin banyak orang meninggal. Jadi kalau Anda membuat berita-berita tidak benar --untuk supaya maaf media Anda populer-- Anda cenderung membuat orang lain bisa cedera," ujar Luhut.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Layanan Identitas Kependudukan bagi Kelompok Transpuan

Kabar Baru Jam 8

Seruan untuk Lindungi Nakes di Daerah Rawan

Kabar Baru Jam 10