covid-19

Epidemiolog: Kapasitas Testing COVID-19 Mestinya 1 Juta Perhari

"Jumlah testing idealnya adalah 80 persen dari tracing kontak erat, dan 20 persen dari penemuan kasus baru."

BERITA | NASIONAL

Senin, 26 Jul 2021 22:40 WIB

Epidemiolog: Kapasitas Testing COVID-19 Mestinya 1 Juta Perhari

Petugas melakukan tes COVID-19 berbasis PCR pada penumpang pesawat di Bandara Ngurah Rai, Bali, Kamis (1/7/2021). (Foto: ANTARA/Fikri Yusuf)

KBR, Jakarta - Ahli epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menilai kapasitas testing atau pemeriksaan COVID-19 di Indonesia saat ini sudah ada kemajuan.

Meski begitu, menurut Dicky, progresnya tidak sebanding dengan eskalasi pandemi yang terjadi.

Dicky menyebut, untuk eskalasi pandemi yang terjadi di Indonesia seperti saat ini, seharusnya testing minimal mencapai 1 juta per hari. Sementara data dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menunjukkan, dalam sepekan terakhir kapasitas testing nasional hanya berkisar antara 160 ribu sampai 290 ribuan saja per hari.

"Strategi testing kita itu ya stabil rendah, stabil rendah. Karena dari pertama sejak pandemi terlihat dari tes positivity rate itu kita selalu diatas 10 persen. Itu saja sudah menunjukkan bahwa, satu, jelas pandeminya tidak terkendali akibat banyak kasus infeksi tidak terdeteksi. Kedua, menunjukkan bahwa kapasitas testing tracing kita sangat buruk, tidak memadai," kata Dicky kepada KBR, Senin (26/7/2021).

Menurut Dicky, pelaksanaan testing tidak dapat ditargetkan. Menurutnya, jumlah testing yang dilakukan harus sesuai dengan hasil tracing dari kontak erat yang ditemukan.

Dicky mengatakan jumlah testing idealnya adalah 80 persen dari tracing kontak erat, dan 20 persen dari penemuan kasus baru. Artinya, jika pada hari ini ditemukan 50 ribu kasus baru, jumlah testing dari hasil tracing dalam 3x24 jam harus minimal 500 ribu, dengan pelacakan 10 orang kontak erat per kasus positif. Ia menilai, target yang ditentukan pemerintah 400 ribu testing per hari, juga sangat minim.

"Itu baru dari tracing kan, nah 20 persennya ini dari kasus yang datang ke Puskesmas, ke rumah sakit, atau yang lapor. Itu pasti nggak akan (tercapai), kalah, jumlahnya lebih banyak gitu. Nah disitulah artinya sebetulnya (target) 400 ribu (testing) itu terlalu minim bahkan terlihat sangat minim," kata Dicky.

Tingkatkan 3T

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan proses testing dan tracing akan terus dimasifkan pada pekan ini, khususnya di kawasan padat penduduk saat masa PPKM level 3 dan 4.

Budi Gunadi mengatakan hal ini merupakan arahan langsung dari Presiden Joko Widodo yang menekankan tingginya angka kematian akibat COVID-19.

Menurut Budi, testing dan tracing sangat krusial sebagai landasan identifikasi keadaan seseorang saat terpapar COVID-19.

"Kenapa testing ini menjadi penting, karena itu tadi sudah kita lihat tingginya yang wafat membuat bapak Presiden itu memanggil saya, terus gimana caranya kita masyarakat kita itu tidak ada yang terus wafat. (Akhirnya) Pak Menko Marinves (Luhut Pandjaitan) sudah mencanangkan bahwa program testing dan tracing yang nanti akan dipimpin oleh bapak Panglima TNI akan mulai minggu ini," ucap Budi dalam konferensi pers daring, Senin (26/7/2021).

Budi meminta masyarakat tidak perlu khawatir, dengan jumlah testing yang menurun usai akhir pekan atau usai hari libur nasional. Ia berkata, pola tersebut sudah berlangsung sekitar 40-50 minggu belakangan.

Menurut Budi, tren kasus yang terjadi, tetap mengacu pada data rata-rata testing mingguan, yang juga dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Saat ini, kata dia, testing per hari baru berkisar 200 ribuan lebih dengan 300 ribu spesimen. Budi pun menargetkan testing bisa terus ditingkatkan selama PPKM.

Sebelumnya, Koordinator PPKM Level 4 di Jawa dan Bali Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah akan menggencarkan testing dan tracing di kawasan perumahan padat penduduk di wilayah aglomerasi guna memutus penularan Covid-19 varian delta.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Layanan Identitas Kependudukan bagi Kelompok Transpuan

Kabar Baru Jam 8

Seruan untuk Lindungi Nakes di Daerah Rawan

Kabar Baru Jam 10