covid-19

Epidemiolog: Jumlah Kematian Pasien COVID-19 Meroket karena 3T Diabaikan

"Yang tadinya bisa dicegah supaya gak jadi parah, yang tadinya bisa dicegah supaya bisa segera ditangani akhirnya nggak bisa."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 22 Jul 2021 23:25 WIB

Epidemiolog: Jumlah Kematian Pasien COVID-19 Meroket karena 3T Diabaikan

Petugas pemakaman membawa peti jenazah di pemakaman khusus COVID-19 TPU Pondok Rajeg, Kab Bogor, Jawa Barat, Selasa (20/7/2021). (Foto: ANTARA/Yulius Satria)

KBR, Jakarta - Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai tingginya angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia merupakan dampak dari sikap pemerintah mengabaikan 3T (testing, tracing dan treatment) yang dilakukan pemerintah.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pada Kamis (22/7/2021), angka kematian harian bertambah 1.449, yang merupakan rekor baru kematian akibat Covid-19 tertinggi selama pandemi.

Dicky menyebut kasus Covid-19 di Indonesia tinggi, namun testing dan tracing-nya rendah sehingga banyak kasus infeksi Covid-19 yang tidak ditemukan.

Padahal penemuan kasus tersebut penting untuk mencegah pasien yang terinfeksi bisa ditangani lebih awal sehingga mengurangi kematian.

"Yang tadinya bisa dicegah supaya gak jadi parah, yang tadinya bisa dicegah supaya bisa segera ditangani akhirnya nggak bisa," kata Dicky saat dihubungi KBR, Kamis (22/7/2021).

Dicky juga menyebut, banyaknya kematian pasien isolasi mandiri disebabkan karena di Indonesia tidak ada sistem kunjungan ke rumah atau visitasi untuk melakukan penilaian risiko awal pasien covid, apakah pasien tersebut boleh untuk Isoman atau harus dirawat rumah sakit. Padahal hal tersebut penting untuk menentukan penanganan serta menurunkan risiko keparahan atau kematian pasien.

"Beberapa beberapa minggu kedepan mengalami kematian. Ini dampak serius dari tidak diperhatikannya aspek testing, tracing dan dilanjut isolasi karantina dan perawatan. Ini yang menyebabkan kematian. Kematian adalah konsekuensi logis dari satu wabah yang kita gagal deteksi di hulunya," tambah Dicky.

Ia menilai program pemerintah seperti konsultasi medis daring (telemedicine) atau obat gratis saja tidak cukup, terlebih telemedicine tak bisa diakses semua orang karena membutuhkan perangkat gawai untuk mengaksesnya.

Kunci utama menekan kematian akibat COVID-19, kata Dicky, adalah dengan tidak terlambat mendeteksi kasus Covid-19. Ia mendorong pemerintah meningkatkan 3T dan vaksinasi secara ekstrim atau besar-besaran, bukan hanya 'sekadarnya' saja.

Sementara itu, Epidemiolog dari Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani juga meminta pemerintah lebih fokus kepada upaya 3T dan 5M.

Kata dia, harus ada target yang mesti dicapai tiap daerah untuk melakukan testing dan tracing. Hal ini untuk mendeteksi kasus dan mengurangi angka kematian.

Kematian isolasi mandiri

Koalisi warga Lapor Covid-19 menemukan setidaknya ribuan orang yang terpapar Covid-19 meninggal dunia di luar fasilitas kesehatan atau saat menjalani isolasi mandiri.

Jumlah tersebut mayoritas berasal dari Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa.

Berdasarkan data Lapor Covid-19, ada 2.313 kematian pasien Covid-19 di luar fasilitas kesehatan, baik mereka yang sedang menjalani isolasi mandiri maupun tengah dalam upaya mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan. Jumlah itu merupakan akumulasi sejak awal Juni hingga 22 Juli 2021.

Co-inisiator Lapor COVID-19, Ahmad Arif mengatakan data Lapor Covid-19 yang berbasis crowdsourcing ini hanya merupakan puncak gunung es. Artinya, jumlah sesungguhnya bisa lebih besar dari yang terpantau Lapor Covid-19 lantaran tak semua kematian di luar fasilitas kesehatan terlaporkan.

Ahmad Arif menilai pemerintah pusat maupun daerah sudah mulai memberikan perhatian lebih untuk menekan kasus kematian pasien isoman. Ia mencontohkan pemerintah telah mendistribusikan obat gratis kepada warga di DKI Jakarta dan Jawa Barat.

“Pak Jokowi juga sudah menyatakan untuk memberikan perhatian lebih kepada pasien isoman. Tetapi menurut kami ini masih kurang memadai terutama untuk daerah-daerah rural atau suburban, sehingga menurut kami sudah saatnya memanfaatkan pusat-pusat isolasi secara terpusat, mungkin sudah saatnya memanfaatkan gedung-gedung pemerintah yang dilengkapi dengan tenaga kesehatan,” kata Arif dalam konferensi pers daring di kanal YouTube Lapor Covid19, Kamis (22/7/2021).

Arif menambahkan, pemerintah juga perlu mengoptimalkan layanan konsultasi daring atau telemedicine agar dapat dijangkau masyarakat di seluruh pelosok Indonesia.

Refleksi bersama

Juru bicara Satgas Penanganan Covid 19-19, Wiku Adisasmito menyebut peningkatan angka kematian Covid-19 berturut-turut selama sepekan mesti dijadikan refleksi serta fokus bersama.

"Patut dijadikan refleksi bersama terlebih sudah 6 hari berturut-turut kematian kita mencapai lebih dari 1000 setiap harinya Ini tidak bisa ditoleransi lagi karena ini bukan sekadar angka. Di dalamnya ada keluarga, kerabat, kolega dan orang-orang tercinta yang pergi meninggalkan kita. Kasus positif yang turun dan kesembuhan yang meningkat harus diikuti dengan kematian yang turun pula," kata Wiku dalam konferensi pers daring (22/7/2021).

Menurut data Satgas COVID-19, pada Kamis (22/7/2021) terjadi penambahan kasus baru positif Covid-19 sebanyak 49.509 orang. Penambahan kasus kematian akibat covid juga tembus rekor dengan 1.449 orang meninggal.

Secara kumulatif, lima daerah dengan jumlah kasus kematian akibat covid-19 terbanyak yakni Jawa Timur (17.135 orang), Jawa Tengah (15.766), DKI Jakarta (10.974), Jawa Barat (7.752), dan Kalimantan Timur (2.691 orang).

Sementara untuk harian, 5 daerah dengan kematian tertinggi akibat covid-19 pada Kamis 22 Juli 2021 adalah Jawa Tengah (402 orang meninggal), Jawa Timur (270 orang), DKI Jakarta (194), Jawa Barat (141), dan DIY (88 orang).

Secara kumulatif se-Indonesia, jumlah kematian akibat covid-19 selama pandemi tercatat sebanyak 79.023 orang meninggal dunia.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7