covid-19

BOR Nasional Masih di Atas Standar WHO, Pasien Covid-19 Pilih Isoman

Penambahan tempat tidur RS tidak sebanding dengan jumlah penambahan pasien Covid-19 setiap hari.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 23 Jul 2021 08:24 WIB

BOR Nasional Masih di Atas Standar WHO, Pasien Covid-19 Pilih Isoman

Ilustrasi petugas medis menunjukkan ruang isolasi Covid-19. Foto: ANTARA

KBR, Jakarta- Tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) secara nasional masih di atas 73 persen. Menurut Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Lia Partakusuma, angka itu lebih tinggi dari ambang batas yang disarankan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Karena itu, ruang perawatan intensif (ICU) tidak bisa dipaksakan untuk diisi penuh. Hal inilah yang menyebabkan antrean pasien bergejala berat terus terjadi dan pada akhirnya terpaksa melakukan isolasi mandiri di rumah.

"Bila digunakan semua ICU, maka akan ada korban-korban lain. Orang operasi tidak bisa masuk ke situ (ICU) atau orang yang dalam kondisi sedang, masuk ke perburukan tidak bisa masuk ICU. Jadi memang harusnya ada spare, WHO bilang 60 persen sudah maksimum tidak boleh lagi penuh. Tapi sekarang (kenyataannya) kan tidak," ucap Lia kepada KBR, Kamis (22/7/2021).

Penambahan Tempat Tidur

Lia mengatakan, penambahan okupansi tempat tidur sudah dilakukan pihak rumah sakit. Namun, penambahan tersebut tidak sebanding dengan jumlah penambahan pasien Covid-19 setiap hari.

Lia menyebut, 30 persen kasus aktif harian COVID-19 harus masuk ruang perawatan. Padahal, kata dia, jumlah ruang perawatan sudah pasti penuh dan hal itulah yang menyebabkan antrean pasien terus menumpuk.

"Bagaimana cara bahwa antrean itu berkurang? Pasti antreannya nambah terus kan dan yang terjadi sekarang di rumah sakit makin hari ada terus antrean. Karena mereka tidak mau antre di luar, banyak yang pulang, sudahlah isolasi mandiri saja. Terjadilah perburukan, sehingga akhirnya meninggal di isolasi mandiri itu kasusnya sekarang banyak," tuturnya.

Menurut Lia, pendirian rumah sakit lapangan sudah cukup membantu. Namun, fakta yang terjadi, rumah sakit lapangan yang tersebar di 61 lokasi juga penuh.

"Kenapa penuh? karena pasiennya naik terus. Gimana caranya (masuk), pasien yang lama belum keluar. Jadi kalau mau mengosongkan rumah sakit, ya, jangan banyak pasien positif, tidak ada cara lain. Kita ingin agar penularan dihentikan, (minimal) kurangilah kalau tidak bisa dihentikan," pungkasnya.

Editor: Sindu

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Layanan Identitas Kependudukan bagi Kelompok Transpuan

Kabar Baru Jam 8

Seruan untuk Lindungi Nakes di Daerah Rawan

Kabar Baru Jam 10