Bagikan:

WNI Disandera Abu Sayyaf, Luhut Kembali Minta Bantuan Pemimpin MNLF

"Jadi biarlah mereka dulu melakukan negosiasi dan kita hadir memberikan asistensi," kata Menko Polhukam Luhut Panjaitan.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 20 Jul 2016 16:44 WIB

WNI Disandera Abu Sayyaf, Luhut Kembali Minta Bantuan Pemimpin MNLF

Sejumlah orang berdemonstrasi di depan Kedubes Filipina Jakarta, Kamis (14/7/2016). Mereka menuntut pembebasan para WNI asal Indonesia yang disandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina. (Foto:



KBR, Jakarta - Pemerintah Indonesia meminta bantuan tokoh Filipina Nur Misuari dalam upaya pembebasan 10 orang Warga Negara Indonesia yang hingga saat ini masih disandera kelompok Abu Sayyaf.

Nur Misuari adalah pimpinan Moro National Liberation Front (MNLF) di Filipina.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Nur Misuari merupakan tokoh yang disegani di Filipina dan berperan banyak pada pembebasan dua peristiwa penyanderaan sebelumnya.

"Tadi saya di-update, memang sekarang kita melihat Misuari banyak membantu kita karena Misuari punya hubungan baik dengan kita. Jadi biarlah mereka dulu melakukan negosiasi dan kita hadir memberikan asistensi," kata Luhut kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (20/7/2016).

Luhut memastikan kondisi terkini 10 warga negara Indonesia yang disandera Abu Sayyaf dalam keadaan sehat dan baik.

Para sandera dipisah menjadi dua kelompok. Tiga orang WNI dipisahkan dari tujuh WNI lainnya di lokasi berbeda.

Baca: WNI Disandera, Penculik Minta Tebusan 55 Miliar

Luhut menambahkan, pemerintah masih mengupayakan negosiasi agar tidak ada korban jiwa.

Menurutnya, Indonesia hampir mustahil melakukan operasi militer untuk membebaskan sandera di Filipina Selatan. Peluang memakai cara operasi militer, menurut Luhut, sangat kecil.

Ia menjelaskan, jika dibuat persentasi maka peluang menggunakan operasi militer hanya 0,5 persen.

Indonesia, kata Luhut, masih mengedepankan pendekatan diplomasi dan operasi intelijen. Sedangkan operasi militer tidak dilakukan karena wilayah yang menjadi basis kelompok Abu Sayyaf sangat sulit.

"Kelompok pemberontak itu sangat paham dan hafal medan. Selain itu warga setempat juga lebih mendukung kelompok Abu Sayyaf daripada mendengar pemerintah Filipina," ujarnya.

Editor: Agus Luqman
 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending