Sengketa Cina Selatan, Luhut Minta Tiongkok Patuhi Putusan Mahkamah Internasional

"Kita kan hidup dalam komunitas internasional, kita harus melihat peraturan yang berlaku secara universal,"

BERITA | NASIONAL

Rabu, 13 Jul 2016 17:33 WIB

Author

Ade Irmansyah

Sengketa Cina Selatan, Luhut Minta Tiongkok Patuhi Putusan Mahkamah Internasional

Ilustrasi: Presiden Jokowi saat berada di perairan Natuna, Cina Selatan. (Foto: Setpres)

KBR, Jakarta- Pemerintah  meminta Cina  mematuhi putusan Mahkamah Arbitrase Internasional. Menkopolhukam, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Mahkamah Arbitrase Internasional di Den Haag sebelumnya memutuskan bahwa Pemerintah Cina tidak memiliki dasar hukum untuk mengklaim seluruh wilayah Laut Cina Selatan.

"Gimana ya, dalam komunitas internasional. Kita kan hidup dalam komunitas internasional, kita harus melihat peraturan yang berlaku secara universal," ujarnya kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (13/07).

Meski demikian kata dia, hubungan antara Indonesia dengan Pemerintah Cina tetap akan membaik meski negeri tirai bambu tersebut tidak menerima keputusan Mahkamah Arbitrase.

"Saya kira akan tetap baik karena Indonesia kan sudah kasih statement yang menjelaskan posisi Indonesia dan tetap juga menghargai atau menghormati hukum international termasuk UNCLOS 82 (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut )," ujarnya.

Selasa kemarin Pengadilan Tetap Arbitrase (PCA) di Den Haag, Belanda, mengeluarkan keputusan akhir dalam menyelesaikan kasus sengketa Filipina - Cina di Laut Cina Selatan. Putusan  antara lain menolak klaim Cina terkait sembilan garis putus-putus (nine dash line) sebagai wilayah laut tradisionalnya.

Menanggapi hal itu, pemerintah Cina menolak keputusan tersebut. Pasalnya,   Duta Besar Cina untuk Amerika Serikat, Cui Tiankai seperti dikutip dari kantor berita Agence France-Presse (AFP) hari ini, mengklaim hampir semua wilayah perairan strategis Laut Cina Selatan milik negaranya. Kata dia, keputusan Mahkamah Arbitrase Internasional atas Laut China Selatan meningkatkan konflik dan bahkan konfrontasi.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Belgia Kewalahan Hadapi Gelombang Pandemi

Penerimaan Masyarakat terhadap Vaksin Covid-19 Masih Rendah

Ronde 6 - Petani Tembakau

Kabar Baru Jam 8