Bagikan:

Permudah Impor Daging, Kementan Cabut 2 Permen

"Oleh karena itu regulasi Permentan hari ini paling lambat besok kami cabut untuk secondary cut bisa masuk ke pasar nanti,"

BERITA | NASIONAL

Kamis, 14 Jul 2016 15:39 WIB

Permudah Impor Daging, Kementan Cabut 2 Permen

Ilustrasi (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Kementerian Pertanian bakal mencabut dua Peraturan Menteri untuk menstabilkan harga daging di pasaran. Dengan begitu menurut Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, impor daging sapi jenis secondary cut (bagian kaki) yang sebelumnya sempat dilarang oleh pemerintah bisa dilakukan.

Kata dia, kualitas daging sapi jenis secondary cut tidak kalah dengan daging segar dan sudah banyak digunakan.

"Ada yang mengatakan pak ini tidak higienis kalau frozen kalau daging segar kan belum tentu. Ada lagi yang mengatakan pak ini kurang bagus. Semua hotel di seluruh dunia pakai daging frozen, dari high class sampai middle class. Jadi tak ada alasan higienis, sehat oleh karena itu regulasi Permentan hari ini paling lambat besok kami cabut untuk secondary cut bisa masuk ke pasar nanti," ujarnya kepada wartawan usai pertemuan dengan Presiden di Istana Negara, Jakarta. 

Selain itu kata dia, pihaknya juga bakal merevisi Undang-Undang  nomor 41 tahun 2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan. Tujuannya sama, kata dia untuk menstabilkan harga dalam jangka panjang. Pasalnya kata dia, dengan merevisi undang-undang ini, impor sapi siap potong bisa dilakukan kembali. Saat ini kata dia, kementan  sudah bertemu  dengan importir untuk membahas harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu di bawah 80 ribu rupiah.

"Awal bulan puasa kami melakukan operasi pasar. Itu adalah solusi jangka pendek adalah operasi pasar besar-besaran, dimana kami jual frozen daging beku di pasar-pasar 9 ribu ton setara 52 ribu ekor sapi bersama 12 perusahaan besar ternyata disenangi masyarakat harganya murah 70-80 ribu. Sehingga harga kami sudah pertemuan 7 importir siap menjual di bawah 80 ribu kami impor sesuai kebutuhan pasar. UU siap potong tak boleh masuk Indonesia. Padahal ide awalnya adalah agar harganya murah tetapi ternyata harganya lebih tinggi dari sapi impor bakalan Australia," ujarnya.

Meski demikian, Amran enggan menjelaskan lebih lanjut soal perusahaan apa saja yang mendapatkan kuota impor dan berapa banyak kuotanya. Kata dia, terkait masalah ini ada BUMN dan ada sejumlah perusahaan swasta.

"Kami impor sesuai kebutuhan pasar. Dan kami protect peternak kecil karena impor di Jabodetabek ini 90 persen impor. Jadi kami impor di Jabodetabek dulu. Tak mungkin kami impor di NTB sana. Lumbung-lumbung sapi lokal kami tidak isi. Kami isi prioritas adalah Jabodetabek. Kami impor sesuai kebutuhan bukan permintaan," ujar mentan.


Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Buntu Penolakan Pemekaran Wilayah Papua