Pasca Rusuh Karo, Polisi Tingkatkan Penjagaan

Warga setempat menuturkan belum ada dialog hingga saat ini.

BERITA | NASIONAL

Minggu, 31 Jul 2016 18:23 WIB

Author

Ade Irmansyah&Andi Muhammad Arief

Pasca Rusuh Karo, Polisi Tingkatkan Penjagaan

Suasaba kerusuhan di Desa Lingga, Kabupaten Karo, Sumut, Jumat (29/7/2016). Foto: BNPB


KBR, Jakarta -  Kepolisian Indonesia meningkatkan penjagaan di Desa Lingga, Karo, Sumatera Utara pasca kerusuhan di sana. Kepala Kepolisian Indonesia, Tito Karnavian mengatakan, hal tersebut dilakukan karena potensi konflik di sana masih ada. Meski demikian, kata dia, kondisi di Desa Lingga saat ini sudah kondusif.


"Dialog sudah dilakukan melibatkan Wakapolda, Dandim, kapolres, Bupati, DPR, dan lainya. Intinya warga menghendaki relokasi itu dibicarakan kembali yang di Desa Lingga itu. Mereka memberikan saran agar relokasi pengungsi gunung sinabung, yang empat desa tadi, itu ditempatkan di tempat lain," jelasnya di Bandara Halim Perdana Kusuma usai melakukan kunjungan ke Tanjung Balai, Sumatera Utara.

Sementara terkait penyebab kerusuhan, menurutnya hal tersebut dikarenakan adanya salah komunikasi antar berbagai pihak.

"‎Mungkin dialognya belum matang di sana. Sehingga ketika ada pengembang yang akan membangun tempat pengungsian di sana, warga memasang pagar. Pagar itu menghalangi jalan. Sehingga ketika akan dibuka, pagar itu kemudian dibersihkan, ditolak oleh warga," imbuhnya.

Baca: Desa Lingga Batal Jadi Tempat Relokasi Pengungsi Sinabung

Berbeda dengan Kapolri, Warga Desa Lingga, Dison menuturkan belum ada dialog dengan pemerintah daerah ataupun kepolisian setempat pasca kerusuhan Jumat lalu. Meski demikian, kata dia, pembangunan di wilayah relokasi telah dihentikan dan pembatas yang dibangun warga juga sudah dirobohkan.

“Sampai sekarang tidak ada yang datang (dari pihak pemkab atau polres). Cuma ini Gubernur dan Pangdam datang untuk silaturahmi dengan warga sambil melayat yang meninggal,” jelas Dison yang merupakan anak dari korban jiwa akibat kerusuhan tersebut.

Ia menambahkan warga keberatan atas putusan relokasi bagi pengungsi letusan gunung Sinabung yang akan ditempatkan di wilayah mereka. Alasannya jumlah pengungsi yang akan direlokasi ke tempat tersebut dinilai terlalu banyak.

“Anak kampung sini menolak. Karena, di atas desa dibangun desa kan tidak mungkin."

“Pertanian di kampung ini pun sudah mendesak. Tidak ada lagi lahan pertanian jika ada banyak pengungsi yang masuk. Di sisi lain, jika pengungsi hanya sejumlah kurang lebih 250 KK, itu aman-aman saja. Tapi ditambah terus, sampai-sampai (warga) empat desak masuk sini kan tidak mungkin tertampung,” tambahnya.

Jumat lalu (29 Juli 2016) terjadi kerusuhan akibat penolakan terhadap rencana relokasi untuk para pengungsi letusan Gunung Sinabung. Satu orang tewas dan satu lainnya luka-luka.

Baca juga: Kerusuhan Tanjung Balai, Menkopolhukam: Penyelesaian Bukan dengan Main Hakim Sendiri

Editor: Sasmito

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Vaksinasi "Drive Thru" Pertama Indonesia

Pahlawan Gambut

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10