covid-19

Panglima TNI: Pembebasan 7 Sandera Abu Sayyaf Tunggu Persetujuan Presiden Rodrigo Duterte

Upaya pembebasan tujuh WNI yang disandera Abu Sayyaf terhambat pergantian presiden di Filipina.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 06 Jul 2016 13:53 WIB

Panglima TNI: Pembebasan 7 Sandera Abu Sayyaf Tunggu Persetujuan Presiden Rodrigo Duterte

Panglima TNI, Gatot Nurmantyo. Foto: ANTARA

KBR, Jakarta - Upaya pembebasan tujuh WNI yang disandera Abu Sayyaf terhambat pergantian presiden di Filipina. Pasalnya menurut Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, jaminan keamanan sandera harus menunggu persetujuan Presiden Filipina yang baru, Rodrigo Duterte.

Meski begitu, kata dia, kerjasama pembebasan sandera antara pemerintah Indonesia dengan Filipina masih berjalan baik.

"Lha kan anda tahu pemerintah Filipin baru ada pergantian Presiden tanggal 30 kemarin. Jadi semuanya menunggu. Sejak awal, sejak pembebasan sandera yang lalu. Kita hanya bersandar kepada pemerintah Filipin mengirimkan sinyal-sinyal intelijen, memberikan informasi, kemudian pembebasan," kata Gatot Nurmantyo di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (06/07/2016).

Kata Gatot, kondisi tujuh WNI sandera Abu Sayyaf dalam keadaan baik. Posisi mereka saat ini berada di kawasan Jolo, Kepulauan Sulu, Filipina.

"Sanderanya 7 orang masih selamat semuanya. Departemen pertahanan dan crisis center sedang berusaha semuanya. Semuanya di Jolo, semuanya di Jolo. Hanya mereka berpindah-pindah," ungkapnya.

Saat ini TNI masih menunggu Standar Operasional Prosedur (SOP) dari Filipina terkait adanya kerjasama militer di perairan Sulu. TNI, kata dia, belum berani memasuki kawasan Sulu saat ini, karena melanggar kedaulatan Filipina.

"TNI hanya mematuhi apabila sudah ada SOP antara TNI dengan Panglima Angkatan Bersenjata Filipin. TNI berani melanggar itu  apabila ada perintah Presiden tanpa itu tidak berani," ujarnya.

Gatot mengungkapkan, pasukannya selalu siap apabila sewaktu-waktu dibutuhkan untuk upaya pembebasan. "Semua prajurit TNI menunggu itu, kapanpun juga kami siap dan semua berebut untuk melaksanakan tugas itu," ungkapnya.

Sebelumnya, tujuh ABK Kapal Tugboat Charles 001 disandera kelompok Abu Sayyaf sejak 21 Juni lalu. Kapal bermuatan batu bara itu sedang menuju ke Filipina Selatan. Terdapat 13 ABK Kapal Charles saat itu, namun enam ABK lainnya berhasil melarikan diri. Kelompok Abu Sayyaf tersebut meminta tebusan 200 juta peso atau sekira 60-65 miliar untuk pembebasan sandera.




Editor: Quinawaty 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

DE-SI (Depresi to Prestasi)

War On Drugs

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10