Mabes Polri Perkirakan Istri Santoso Kabur dengan Basri

"Yang jelas dua wanita itu kabur bersama dengan satu orang yang kita duga Basri, yang membawa senjata api M16," kata Juru bicara Mabes Polri Boy Rafli.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 20 Jul 2016 13:56 WIB

Author

Gilang Ramadhan

Mabes Polri Perkirakan Istri Santoso Kabur dengan Basri

Beberapa anggota Polisi bersenjata lengkap tengah berjaga di depan Ruangan Instalasi Forensik RS Bhayangkara, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (19/7). (Antara)



KBR, Jakarta- Mabes Polri mengungkap identitas tiga teroris anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang kabur setelah kontak tembak di Poso dua hari yang lalu.

Juru Bicara Polri, Boy Rafli Amar mengatakan, mereka terdiri dari dua orang perempuan dan seorang laki-laki.

"Itu istrinya Santoso, satu istrinya Basri, itu yang kita prediksi. Kepastiannya itu harus kita lihat nanti kalau sudah tertangkap," kata Boy di Mabes Polri, Rabu (20/7/2016).

Boy Rafli menjelaskan, istrinya Santoso bernama Jamiatun Muslim alias Atun alias Bunga alias Umi Delima. Sedangkan istri Basri bernama Nurmi Usman alias Oma.

Dua perempuan itu lari bersama Basri alias Bagong (alias Bang Ayas alias Opa).

"Yang jelas dua wanita itu kabur bersama dengan satu orang yang kita duga Basri, yang membawa senjata api M16," ujar Boy.

Baca: Basri Penerus Santoso di Kelompok MIT Poso

Kepolisian telah memastikan buron teroris Santoso dan Muchtar tewas dalam kontak tembak antara milisi MIT dengan anggota pasukan gabungan TNI-Polri, Senin (18/7/2016) lalu di Poso.

Kepastian Santoso tewas diketahui berdasarkan keterangan beberapa orang saksi termasuk petugas yang pernah berinteraksi dengannya pada saat tertangkap beberapa waktu lalu. Kesaksian itu diperkuat dengan sidik jari jenazah yang cocok dengan data yang dimiliki polisi.

"Identifikasi sidik jari, kebetulan Santoso pernah menjadi tahanan Polri pada tahun 2004 dan pernah diambil sidik jari. Itu cocok," kata Boy.

Perburuan Santoso dilakukan selama bertahun-tahun oleh pasukan gabungan TNI dan Polri. Sebelumnya, operasi perburuan menggunakan sandi Operasi Camar Maleo. Pada 2016, operasi berubah nama menjadi Operasi Tinombala.

Baca: Istana Berharap Operasi Tinombala Bisa Segera Diakhiri

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Tanda Kekuasaan Allah di Mesir

Siapa Nama Firaun pada Masa Nabi Musa

Kabar Baru Jam 7

Jurus Investasi Reksadana Antitekor

Kiat Asyik Tegakkan Prokes saat Rayakan Hari Raya