Wahid Institute Siapkan Aplikasi Pantau Pelanggaran Kebebasan Beragama

Supaya laporan dari lapangan bisa masuk lebih cepat.

NASIONAL

Kamis, 03 Jul 2014 15:29 WIB

Author

Sefiana Putri Tingginehe

Wahid Institute Siapkan Aplikasi Pantau Pelanggaran Kebebasan Beragama

Toleransi, kebebasan beragama, Wahid Institute

KBR, Jakarta – The Wahid Institute tengah menyiapkan sebuah aplikasi telfon pintar untuk memantau pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. 


Aplikasi ini diberi nama m-Pantau KBB atau Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Setiap orang bisa memakai aplikasi ini untuk melaporkan kasus kekerasan atau pelanggaran yang terjadi atas nama agama di lapangan. 


“Setiap ada kejadian pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di lapangan bisa dilaporkan langsung lewat aplikasi tersebut. Semuanya bisa dilaporkan lewat berbagai platform,” kata Gamal Ferdhi dari The Wahid Institute yang memimpin proyek ini, Kamis (3/7). 


Dalam laporan akhir tahun Wahid Insitute, sepanjang 2013 ada 245 kasus pelanggaran mulai dari terkatung-katungnya nasib pengungsi Ahmadiyah di Wisma Transito NTB, penyegelan gereja GKI Yasmin dan Filadelfia Bekasi serta kasus Syiah Sampang. 


Dengan aplikasi ini, semua orang bisa melaporkan kejadian pelanggaran atas nama agama yang terjadi di daerahnya. Selain itu, dia juga bisa melihat laporan-laporan yang sudah masuk sebelumnya. 


“Para korban tinggal mengirimkan nama, nama pelaku dan korban, lalu juga jenis pelanggaran yang dilakukan di lapangan. Nanti itu akan masuk ke sistem yang ada di Wahid Institute,” jelas Gamal. 


Wahid Institute akan menyediakan pemantau untuk memverifikasi dahulu semua laporan yang masuk. Saat ini pemantau Wahid Institute tersebar di 34 provinsi. Setelah itu ada admin yang akan menyaring informasi ini di tahap kedua sebelum memunculkan laporan di website. 


Secara rutin Wahid Insitute mengeluarkan laporan berisi perkembangan kasus kekerasan atas nama agama yang terjadi sepanjang tahun di Indonesia. Cara yang selama ini dipakai untuk mengumpulkan data adalah dengan metode konvensional. “Misalnya terima laporan lewat telfon atau korban datang ke kami,” jelas Gamal. 


Dengan dibuatnya aplikasi ini diharapkan laporan dari lapangan bisa masuk lebih cepat. 


Bagi warga yang tidak menggunakan smartphone, tetap bisa melaporkan kasus kekerasan atas nama agama ke Wahid Insitute. Caranya dengan melaporkan ke situs, media sosial di Twitter @WAHID1nstitute serta SMS. Dengan begitu, semua orang bisa melaporkan ke berbagai platform yang ada. 


Menurut Gamal, aplikasi ini akan dirancang supaya mudah dipakai semua orang. Ia berharap laporan yang masuk bisa semakin banyak. “Selama pelanggaran ini masuk ke kategori kebebasan beragama dan berkeyakinan maka akan diproses.”


Gamal memastikan, selain menerima dan mempublikasikan, Wahid Insitute akan menindaklanjuti semua laporan yang masuk ke mereka kepada aparat terkait. 


“Untuk korban, mereka akan mendapat pendampingan dari Wahid Institute dan advokasi untuk kasus-kasus yang terjadi itu.”


Aplikasi ini diharapkan selesai pada Agustus 2015. Aplikasi m-Pantau KBB akan tersedia untuk smartphone berbasis Android dan iOS. 


Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Aplikasi LAPOR Dinilai Tidak Efektif Tanggapi Laporan Masyarakat