Tanam Nilai Toleransi, Wahid Institute Buat Papan Bermain untuk Anak Sekolah

Judulnya

NASIONAL

Senin, 07 Jul 2014 05:06 WIB

Author

Dirgantara Reksa

Tanam Nilai Toleransi, Wahid Institute Buat Papan Bermain untuk Anak Sekolah

Papan permainan, Wahid Institute, Living Bhinneka Tunggal Ika

KBR, Jakarta – Anda tentu kenal board game atau papan permainan seperti monopoli atau ular tangga kan? Saat ini Wahid Institute tengah menyiapan permainan seperti itu dengan judul “Living Bhinneka Tunggal Ika”. 


Alamsyah M. Djafar dari Wahid Institute adalah orang yang menggawangi dibuatnya papan permainan ini. Menurut Alamsyah, ini dilatarbelakangi temuan Wahid Institute kalau radikalisme tumbuh di sekolah-sekolah umum. Selain itu, hampir 40 persen siswa dan guru di Jakarta mendukung ide-ide yang diusung kelompok garis keras. 


“Dari temuan tersebut Wahid Institute jadi merasa berkepentingan untuk berkontribusi bagaimana memperkuat nilai  toleransi di sekolah,” jelas Alamsyah. “Dengan tumbuhnya nilai tersebut, diharapkan siswa-siswa jauh lebih terbuka lebih toleran dan dapat mendorong deradikalisasi di sekolah.”


Papan permainan ini rencananya akan diuji coba ke sekolah umum di Jabodetabek pada bulan Oktober nanti. Sasaran utama papan permainan ini adalah siswa SMA berusia 15-17 tahun, meski tentu juga bisa dimainkan oleh kelompok usia lain. 


Konsep 


Konsep permainan yang dipakai untuk membuat “Living Bhinneka Tunggal Ika” datang dari papan permainan bernama”Smakin Berdetak”. Papan permainan ini adalah buatan Philip Triana dengan penekanan pada nilai-nilai tenggang rasa dan karakter baik. 


“Kami telah perkenalkan permainan ini ke berbagai kalangan mulai dari anak TK, kepala keluarga, lansia, bahkan kalangan buruh perempuan. Kami menilai dari uji coba tersebut berhasil memperkenalkan ide kasih sayang kepada mereka,” tambah Philip.


Cara bermainnya “Smakin Berdetak” ini seperti monopoli dan bisa dimainkan sampai 4 orang. Setiap orang diberi “modal” empat kartu hati yang berarti karakter positif, lantas mengocok dadu dan berjalan sebanyak angka yang tertera di dadu. Papan permainan sendiri terdiri atas 4 lingkaran dengan berbagai karakter di sana. 


Kalau pemain berhenti di kotak karakter baik, maka dia mendapatkan tambahan kartu hati. Sementara kalau dia berhenti di kotak karakter buruk, maka pemain harus melepaskan kartunya. Dan kalau tiba di kotak kesempatan (di sini disebut sebagai “Minum Jus”), maka ada satu kartu yang harus diambil. Kartu itu berisi perintah seperti “Ceritakan pengalaman terbaikmu bersama orangtua” dan sebagainya. 


Rencananya Wahid Institute akan membuat prototipe papan permainan “Living Bhinneka Tunggal Ika” sebanyak 800 buah. Biaya pembuatan satu papan permainan itu sendiri sekitar Rp 80 ribu. Alamsyah berharap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa ikut mendorong pembuatan papan permainan ini. 


Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Aplikasi LAPOR Dinilai Tidak Efektif Tanggapi Laporan Masyarakat