Hakim PTUN Tolak Gugatan Pencapresan Prabowo

KBR, Jakarta

NASIONAL

Jumat, 04 Jul 2014 17:23 WIB

Author

Garnis Geani

imparsial, PTUN, Prabowo

KBR, Jakarta – Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Jumat (4/7) hari ini menggelar sidang perdana gugatan dari Koalisi Gerakan Melawan Lupa (KGML). 


KGML menggugat Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menetapkan Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Prabowo dianggap tidak pantas menjadi calon presiden karena telah melakukan pelanggaran HAM dan memiliki jejak buruk di masa lalu.

Namun gugatan KGML ini ditolak oleh hakim di PTUN, Hendro Puspito. Hendro Puspito mengatakan dalam persidangan bahwa ditolaknya gugatan karena PTUN tidak berkuasa atas gugatan tersebut. Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) lah yang berhak atas laporan dan gugatan itu. Juru Bicara KGML Poengky Indarti menyatakan kekecewaannya atas penolakan dari hakim.

“Ini sangat kami sayangkan. Karena kami berharap PTUN sebagai garda terakhir pengadilan yang bisa kita harapkan. Kita kan bukan pihak atau kontestan Pemilu, sehingga jika ada keberatan masyarakat terkait dengan keputusan KPU, kita ajukan ke PTUN. Itu sudah prosedur yang paling tepat menurut kami,” kata Poengky di PTUN Jakarta Timur.

Salah seorang kuasa hukum dari KGML, Muhammad Daud menyatakan bahwa apa yang menjadi keputusan hakim pihaknya akan melakukan perlawanan secara hukum. Karena sebelumnya jauh sebelum penetapan Capres, KGML sudah menyampaikan pada KPU soal penolakan mereka pada Prabowo Subianto.

“Seseorang yang dinyatakan masih punya persoalan di masa lalu, menjadi satu kandidat Capres, saya kira itu sebuah kemunduran dari demokrasi,” kata Daud.

Koalisi Gerakan Melawan Lupa terdiri dari sejumlah LSM antaralain Kontras, Setara Institute, Imparsial, LBH Jakarta, Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI), Setara Institute dan sejumlah LSM Hak asasi manusia lainnya.



Editor: Luviana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Menteri Nadiem Makarim Diminta Kaji Ulang Kebijakan Kampus Merdeka