Golkar Putuskan Menjadi Partai Oposisi

KBR, Jakarta - Partai Golkar akan menjadi partai oposisi bagi pemerintahan Joko Widodo ke depan apabila kandidat calon presiden Prabowo-Hatta kalah di Mahkamah Konstitusi (MK).

NASIONAL

Senin, 28 Jul 2014 19:41 WIB

Author

Yudi Rachman

Golkar Putuskan Menjadi Partai Oposisi

Golkar, partai, oposisi

KBR, Jakarta - Partai Golkar akan menjadi partai oposisi bagi pemerintahan Joko Widodo ke depan apabila kandidat calon presiden Prabowo-Hatta kalah di Mahkamah Konstitusi (MK).

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tanjung mengatakan partai Golkar sudah melakukan koalisi dengan partai pendukung Prabowo-Hatta dan menjadi koalisi permanen selama 5 tahun ke depan. Namun apabila ada kadernya yang bergabung dalam pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Golkar tidak akan mencegahnya karena hal tersebut juga merupakan sesuai dengan hak asasi untuk mengabdi dalam pemerintahan.

"Secara organisasi Golkar sudah mengatakan berkoalisi dan koalisinya itu koalisi permanen dan waktunya ditentukan minimalnya lima tahun dan menurut saya itu sikap yang tepat dalam rangka untuk memperkuat sistem politik dan demokrasi. Sikap itu akan menjadi check and balance. Jadi partai yang tidak ada dalam pemerintahan itu melakukan fungsi-fungsi check and balance dan mengimbangi kekuasaan yang ada," jelas Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tanjung saat silaturahmi di kediaman Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie, Senin (28/7/2-14) hari ini.

Akbar menambahkan, alasan partai Golkar menjadi kontrol pemerintahan karena dinilai pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla berpotensi menyalahgunakan kekuasaan.

Sebelumnya, beberapa petinggi Partai Golkar seperti Agung Laksono mendesak dilakukannya Munas luar biasa untuk mengevaluasi kepemimpinan Aburizal Bakrie selama lebih dari empat tahun.


Editor: Luviana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme