Bagikan:

Target Prevalensi Tengkes 14 Persen di 2024 Sulit Tercapai

Dengan target yang begitu besar sebagai acuan itu bagus, tetapi apakah tercapai atau tidaknya saya melihat dengan perkiraan yang ada mestinya tidak ya

NASIONAL

Selasa, 06 Jun 2023 17:34 WIB

Target Prevalensi Tengkes 14 Persen di 2024 Sulit Tercapai

Petugas kesehatan mengukur lingkar kepala balita saat pelaksanaan Posyandu di Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (21/1/2023). (Foto: ANTARA/Akbar Tado)

KBR, Jakarta - Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menilai target pemerintah menurunkan stunting atau tengkes 14 persen di tahun depan sulit tercapai. Ketua Umum IAKMI Ede Surya Darmawan mengatakan, target tersebut masih terlalu tinggi. Apalagi tahun ini prevalensi tengkes masih di angka 21,6 persen.

Kata dia, pemerintah masih memiliki tantangan besar dalam memberikan bantuan gizi bagi ibu dan anak di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar alias 3T.

"Hanya menginginkan 14 persen sebenarnya itu terlalu tinggi. Karena bagaimanapun stunting di negara maju pun tetap ada. Dengan target yang begitu besar sebagai acuan itu bagus, tetapi apakah tercapai atau tidaknya saya melihat dengan perkiraan yang ada mestinya tidak ya. Tapi itu bukan suatu hal yang buruk," ujar Ede Surya kepada KBR, Selasa (6/6/2023).

Ede mendorong pemerintah melakukan pemerataan dalam menyalurkan bantuan pemenuhan gizi. Ia menyebut masih banyak daerah di kawasan timur Indonesia belum menerima bantuan.

Menurutnya, pembenahan harus segera dilakukan jika ingin mencapai target prevalensi 14 persen di tahun depan.

"Pemerintah itu harus memberikan edukasi terkait pemahaman terkait gizi dan pola asuh anak yang baik. Karena masih banyak masyarakat dengan kemiskinan ekstrem yang belum paham dengan stunting," kata dia.

Baca juga:

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, ada 10 indikator Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang berpotensi gagal mencapai target.

Satu dari sepuluh indikator yang berisiko gagal itu adalah target penurunan angka tengkes balita. Suharso pesimistis target itu bisa tercapai.

"Ditargetkan pada tahun 2024, maka pada tahun ini dan tahun depan masing-masing harus turun sekitar 3,8 persen dan penurunannya adalah di 12 provinsi prioritas yang kita lakukan dengan secara gotong royong dari semua kementerian lembaga," kata Suharso dalam Raker di Komisi XI, Senin (6/6/2023).

"Dan kita mengadakan pendampingan keluarga untuk tim pendamping keluarga di desa. Perluasan cakupan penyediaan makanan tambahan untuk ibu hamil, kurang kronis, dan balita kurus, perluasan cakupan imunisasi dasar lengkap, dan peningkatan kualitas dasar surveilans mulai dari unit pelayanan kesehatan terkecil," ujarnya.

Editor: Wahyu S.

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Bedah Prospek Emiten Energi dan EBT

Google Podcasts Ditutup Tahun Depan

Kabar Baru Jam 7

30 Provinsi Kekurangan Dokter Spesialis

Kabar Baru Jam 8

Most Popular / Trending