Bagikan:

Wabah PMK Makin Sulit Dikendalikan, Peternak Berduka

Banyak hewan ternak yang akhirnya dipotong di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Ini berdampak pada penularan PMK yang semakin tak terkendali, dan harga daging anjlok karena daging di RPH belum terjual.

NASIONAL

Kamis, 09 Jun 2022 00:02 WIB

PMK makin tidak terkendali

Dokter hewan memeriksa ternak yang diduga terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/6/2022). (Foto: ANTARA/Raisan Al Farisi)

KBR, Jakarta - Sekjen DPP Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Rochadi Tawaf mengatakan, saat ini para peternak sapi dan kerbau sedang berduka, sebab banyak hewan ternak yang terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK).

Ia menyebut, hal ini semakin hari akan semakin parah dan menjadi sulit dikendalikan jika pemerintah tidak bertindak cepat.

"Jadi menurut saya bertambah hari bertambah terus dan bahkan sudah mungkin agak sulit dikendalikan, kalau tidak ada tindakan nyata, real dari pemerintah, dalam bentuk vaksinasi maupun kegiatan-kegiatan ganti mengganti ternak dengan biaya penggantian. Karena akhirnya mereka menjual murah dan dipotong di RPH, dan di RPH itu sangat penuh dan ini kekhawatiran kita adalah sudah mulai terdampak kemana-mana," kata Rochadi kepada KBR, Rabu (8/6/2022).

Baca juga:


Rochadi mengatakan, banyaknya hewan ternak yang akhirnya dipotong di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) justru berdampak pada penularan yang semakin tak terkendali.

Ia mengatakan, harga daging akan anjlok karena penumpukan daging di RPH yang tidak terjual.

"Artinya harga daging anjlok, daging tidak terjual karena penanganan pendinginan, tidak ada protap yang ditetapkan oleh pemerintah, tidak bisa dilakukan di RPH, karena misalnya harus direbus dan lain sebagainya. Infrastruktur itu nggak ada di lapangan, ini informasi yang kami peroleh dari report-report anggota PPSKI ataupun anggota Komunitas Sapi Indonesia," imbuhnya.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

RAPBN 2023, Penanganan Pandemi Tak Lagi Jadi Prioritas?

Most Popular / Trending