Perjuangan Amani Hidup Bersama Gangguan Mental (bagian 2)

Penanganan masalah kesehatan mental masih dibayangi stigma

Jurnal harian milik Amani, ia buat untuk membantu mendokumentasikan kegiatan hariannya. (Dok: Pribadi)

Jumat, 10 Juni 2022

KBR, Jakarta - Amani lagi-lagi nekat mengambil langkah besar.

“Sebenarnya sedikit khawatir. Aku ngetik itu sambil deg-degan, gemetaran. Pikiran jahat aku tuh mikir kayak 'nanti ada yang bilang kamu caperlah, ada yang bilang kamu bohonglah,” kata Amani, mahasiswi jurusan Seni Rupa di salah satu kampus di Bandung ini.

Pada 18 Mei 2022, ia membuat utasan panjang di Twitter tentang pengalaman sebagai pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Jawa Barat.

“Kalau bukan aku mungkin orang lain ga mau. Jadi biarin aja aku mempermalukan diri sendiri atau aku jadi bulan-bulanan orang, yang penting orang lain bisa lebih ngerasa ini jadi normal,” ujar dia.

“Aku mau menormalisasikan masuk RSJ, juga soal mental health issue. Sampai akhirnya ini jadi hal yang mudah untuk dibicarakan,” imbuhnya.

Tak dinyana cuitan Amani disukai 4 ribuan orang dan dibagikan 600-an kali. Jumlah pengikutnya pun meroket hingga mencapai 3 ribuan.

“Aku sih kaget, aku ga nyangka sampai bisa ada orang penting yang dengar itu,” celetuk Amani.

Baca juga: Perjuangan Amani Hidup Bersama Gangguan Mental (bagian 1)

Membaca jadi hobi Amani yang membantu menghadapi gangguan kesehatan mentalnya (Dok: Pribadi)

Amani mulai resah. Atensi mendadak ini bisa memperberat kondisi mentalnya. Namun, semangatnya untuk membuat perubahan lebih besar.

Itu sebab, ia tak ragu menyanggupi permintaan wawancara dari KBR. Padahal, bipolarnya sedang kambuh.

“Iya relapse, lagi depresi. Udah sekitar seminggu, dua minggu. Sebentar lagi harusnya aku bangkit sih soalnya harus ngerjain tugas,” ungkap Amani yang didiagnosis bipolar pada 2021 ini.

Perempuan 21 tahun ini ingin berbagi pengalamannya hidup bersama gangguan mental.

Penerimaan diri, pengetahuan yang memadai dan penanganan yang tepat jadi kunci. Stigma tentang RSJ dan masalah kejiwaan mesti diakhiri.

Amani sudah merasakan gejala sejak kecil. Namun, ia baru mengakses psikolog dan psikiater di bangku kuliah.

“Aku ingin divonis agar aku tahu apa yang terjadi pada diriku. Aku tahu caranya men-treat diri, menyembuhkan diri, dan apa yang (harus) aku lakukan. Mikirnya ngapain aku takut, toh nantinya akan lebih baik buat diriku,” ungkap dia.

Baca juga: Potret Ketimpangan Layanan Kesehatan Mental

Aneka kerajinan tangan hasil karya para penyandang skizofrenia di Bali. Mereka difasilitasi komunitas Rumah Berdaya. (Foto: KBR/Lea Citra)

Selepas dirawat di RSJ Jawa Barat, Amani makin solid dalam mengelola kesehatan mental. Unggahannya di media sosial menggugah banyak orang dengan problem serupa untuk mencari bantuan profesional.

“Di Instagram, aku menjelaskan tentang bipolar, tentang mental health atau caranya ke psikiater dan ke psikolog. Lumayan akhirnya ada lima orang yang mau ke psikiater dan psikolog,” terang Amani.

Meski, ada juga kometar miring yang mampir.

“Mbak saya ga percaya sama bipolar. Menurut saya hanya dibuat-buat dan halu, katanya gitu. Dia kayak ga mau ngubah perspektif. Aku kira dia mau belajar tentang bipolar, terus aku ngerasa ini buang-buang waktu, jadi aku diemin aja,” kata dia.

Amani bertekad terus menyebarkan optimisme kepada sesama penderita gangguan mental.

“Jangan denial dan terus berusaha karena sebenarnya gangguan mental itu bisa di-conquer, di-manage sampai akhirnya kita bisa hidup bersama mental health issue. Pokoknya jangan takut karena kalian ga sendirian. Kalian bakalan jadi pemenang,” kata Amani menyemangati.

Baca juga: Lewat Seni Berdayakan Penyandang Skizofrenia

Psikolog Aully Grashinta menyebut kesehatan mental harus diposisikan setara dengan kesehatan fisik. (Foto: pribadi)

Perjuangan Amani mendapat aplaus Dosen Psikologi Universitas Pancasila, Aully Grashinta.

“Itu hal yang luar biasa, itu mungkin one in the million. Dia bisa membedakan antara apa yang dia rasakan dan apa yang dia rasa, dia rasa. Bisa membedakan ini adalah penyakit, ini bukan kemauan saya untuk sakit. Sehingga dia bisa melakukan langkah-langkah rasional untuk menyelesaikan masalahnya,” ujar Aully.

Aully sepakat kesehatan mental harus diposisikan setara dengan kesehatan fisik. Berobat ke rumah sakit jiwa, mestinya dianggap hal biasa.

“Sama seperti kita punya penyakit mag, ketika kambuh, ya harus ke dokter minta obat. Sama persis. Apa bedanya RSJ dengan rumah sakit fisik? tapi kenyataannya kita alergi dengan kata-kata rumah sakit jiwa. Itu sebenarnya layanannya sama,” lanjutnya.

Lingkungan yang suportif sangat penting bagi pemulihan penderita gangguan mental. Mereka juga berhak hidup layak dan berkualitas.

“Kalau kita sendiri yang mengalami akan sulit untuk bisa keluar dari kondisi tersebut. Sehingga bantuan dari significant others atau orang-orang terdekat dari penderita inilah yang paling penting,” pungkas Aully.